Gambar: Catatan Peri Akri Domo
Pekanbaru (Utusan Rakyat) – Sebuah video yang menampilkan pandangan ekonomi dan kebangsaan dari seorang pria bernama Peri Akri Domo beredar di platform digital pada Minggu (17/8/2025). Dalam monolog berdurasi sekitar dua menit tersebut, ia menyerukan sebuah langkah fundamental yang disebutnya sebagai “shutdown-restart” untuk menjadikan Indonesia poros baru ekonomi dunia.
Menyoroti tantangan global seperti perang tarif, ego kawasan, dan krisis kapital, Peri Akri Domo menyatakan bahwa Indonesia tidak seharusnya memposisikan diri sebagai korban, melainkan sebagai sebuah peluang.
“Negeri ini dengan tanah yang subur, laut yang luas, dan manusia-manusia yang tangguh, memiliki potensi luar biasa untuk menjadi poros baru ekonomi dunia,” ujarnya dalam rekaman video tersebut.
Menurutnya, Indonesia pada dasarnya memiliki kekuatan (“digdaya”) namun belum sepenuhnya berdaya. Untuk membangkitkan potensi tersebut, ia mengusulkan sebuah langkah besar yang berani, yakni kembali ke fondasi bangsa.
“Cukup satu langkah besar yang berani: shutdown, restart. Balik ke pangkal,” tegasnya.
Pangkal yang dimaksud adalah Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 versi asli dan sila kelima Pancasila, yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Ia berpendapat bahwa landasan konstitusional dan ideologis ini sudah sangat jelas sebagai pedoman untuk membangun sistem ekonomi yang berpihak pada rakyat.
Lebih lanjut, ia menguraikan beberapa aksi konkret yang perlu dilakukan, di antaranya adalah rasionalisasi aset para koruptor dan menindak tegas para pelaku bisnis yang tidak mematuhi hukum. Dalam konteks ini, ia menyebut Undang-Undang Perampasan Aset sebagai alat krusial untuk menyelamatkan masa depan bangsa dari dampak krisis global.
Peri Akri Domo juga menyoroti peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai “senjata rahasia” bangsa. Menurutnya, UMKM bukan hanya sekadar bertahan, tetapi telah terbukti menjadi tameng ekonomi nasional.
“Ketika negara-negara lain limbung oleh ego kapital, Indonesia bisa berdiri tegak dengan ekonomi kerakyatan yang mengakar dan tumbuh dari bawah,” katanya.
Sebagai penutup, ia menekankan perlunya perubahan paradigma dan kepemimpinan yang kuat. Ia mendefinisikan pemimpin yang dibutuhkan adalah mereka yang berpikir jernih, memiliki keimanan yang kuat, serta berani mengambil keputusan besar demi kepentingan rakyat dan pertanggungjawaban di akhirat.
“Saatnya kita menyala di tengah gelapnya dunia. Indonesia saatnya menjadi poros baru dunia,” pungkasnya. (HMTS)




















































Discussion about this post