Gambar: Ketua Paguyuban Masyarakat Palembang Bersatu (PMPB) Sumatera Selatan, M. Yusuf Malaya, beserta jajaran pengurus menyerahkan bantuan berupa beras, minyak goreng, mi instan, dan makanan kotak kepada pengurus serta anak-anak Panti Asuhan War Rohmah di kawasan Kalidoni, Palembang. Bantuan ini merupakan bagian dari program aksi sosial dan kepedulian PMPB Sumsel yang diterjunkan langsung ke masyarakat pada momen bulan Ramadan.
PALEMBANG (Utusan Rakyat) – Belum genap sepekan memimpin Paguyuban Masyarakat Palembang Bersatu (PMPB) Sumatera Selatan periode 2026–2030, M. Yusuf Malaya langsung mengirim pesan tegas: organisasi tak boleh hanya ramai di struktur, tapi sunyi di aksi.
Alih-alih memulai kepengurusan dengan rapat-rapat internal dan seremoni formal, Yusuf memilih turun ke lapangan. Sejak 23 Februari 2026, ia memimpin langsung program “PMPB Sumsel Ramadhan Berbagi” di sejumlah titik di Palembang.
Jalan-jalan protokol, persimpangan padat, hingga kawasan permukiman menjadi lokasi pembagian takjil bagi masyarakat.
Bagi Yusuf, Ramadhan bukan sekadar momentum religius, melainkan panggung pembuktian kepemimpinan.
“Organisasi harus terasa manfaatnya. Kalau hanya papan nama dan struktur, itu tidak cukup. Kita ingin PMPB Sumsel hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.
Langkah simbolik itu berlanjut pada Jumat (27/2/2026). Yusuf memimpin rombongan menyambangi Panti Asuhan Warrohmah di kawasan Kalidoni. Bantuan yang disalurkan bukan sekadar paket seremonial, tetapi kebutuhan riil: beras, gula, minyak, susu, nasi kotak, hingga paket takjil untuk anak-anak panti.
Di panti yang menampung 22 anak yatim piatu dengan empat pengasuh tersebut, Yusuf tak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga berdialog dengan pengurus dan anak-anak. Ia menegaskan bahwa kepengurusannya ingin membangun pola kerja yang konsisten dan berkelanjutan.
“Ini bukan agenda satu kali. Kami sedang menyiapkan program sosial yang terstruktur, terukur, dan berkesinambungan selama masa kepengurusan,” ujarnya.
Angle kepemimpinan Yusuf terlihat jelas: mempercepat kerja, memperluas dampak. Ia mendorong PMPB Sumsel bertransformasi dari sekadar paguyuban berbasis kekerabatan menjadi kekuatan sosial yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat Sumatera Selatan.
Ketua Panti, Hardi, mengakui bantuan tersebut sangat membantu kebutuhan operasional panti menjelang Ramadhan. Namun yang lebih penting, kata dia, adalah perhatian yang diberikan.
“Anak-anak merasa diperhatikan. Itu yang paling berarti,” ungkapnya.
Di tengah banyaknya organisasi yang aktif saat momen tertentu, langkah cepat M. Yusuf Malaya menjadi ujian konsistensi. Publik kini menanti, apakah gebrakan awal ini akan menjadi fondasi gerakan sosial jangka panjang.
Satu hal yang pasti, Yusuf telah memulai masa kepemimpinannya dengan pesan kuat: PMPB Sumsel tidak ingin sekadar dikenal, tetapi ingin dirasakan.
/Kontributor : Hotman Ferrizal Saragi/amir





















































Discussion about this post