Gambar: Peta wilayah kedaulatan energi Indonesia yang menyoroti potensi besar di Blok Rokan sebagai penyumbang seperempat produksi minyak nasional serta cadangan gas raksasa sebesar 11 TCF yang tersebar di Pantai Utara Sumatera dan Pantai Timur Kalimantan Timur. Infografis ini juga menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai pemilik potensi energi baru terbarukan terbesar di dunia untuk mendukung kemandirian ekonomi global selaras dengan visi Mahadaya Energi dari Permigastara.
Pekanbaru (Utusan Rakyat) – Indonesia memiliki peluang emas untuk memimpin arah baru ekonomi dunia melalui kedaulatan energi dan ekonomi digdaya. Demikian disampaikan Peri Akri Domo, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perkumpulan Pengusaha Migas, Energi Baru dan Terbarukan Nusantara (Permigastara), dalam catatan strategisnya yang menyoroti potensi blok migas Rokan di Riau, cadangan gas raksasa di Pantai Timur Kalimantan Timur (5 TCF) dan Pantai Utara Sumatera (6 TCF) dengan total 11 Trillion Cubic Feet (TCF), serta energi baru terbarukan (EBT) terbesar di dunia.
Sejak alih kelola Blok Rokan dari Chevron ke Pertamina Hulu Rokan (PHR) pada 9 Agustus 2021, lebih dari 1.000 sumur telah ditajak. Blok ini menyumbang seperempat produksi minyak nasional, dengan cadangan tersisa diprediksi mencapai 2,9 miliar barel menggunakan teknologi eksplorasi konvensional.
> “Bayangkan potensinya jika teknologi perminyakan baru diterapkan, seperti di formasi Telisa Blok Rokan,” tulis Peri Akri.
Wilayah ini tetap menjadi pemasok utama APBN, tapi tantangannya kini adalah memastikan tata kelola migas dan EBT berdampak sosial-ekonomi berdaya saing tinggi bagi masyarakat Riau “Bumi Lancang Kuning” setelah lebih dari empat tahun dikelola sepenuhnya oleh manajemen nasional.
Dalam era geopolitik terkini yang ditandai ketegangan global seperti perang dagang AS-China, krisis energi Eropa pasca-Ukraina, dan transisi hijau dunia, Indonesia berada di posisi strategis. Cadangan gas 11 TCF ini kembali melirik investor global, sementara sawit (CPO dan turunannya) sebagai produsen terluas dunia serta EBT seperti geothermal dan surya terbesar secara global memperkuat kemandirian ekonomi.
> “Sektor migas, sawit, dan EBT masih dominan bagi +62. Saatnya kita pimpin ekonomi dunia, bukan sekadar jadi pemasok,” tegas Peri Akri.
Namun, narasi sukses ini tak lepas dari kajian lanjutan. Peri Akri menyoroti isu debatabel seperti dana bagi hasil dengan PI 10 persen yang berpotensi jadi “jebakan Batman” jika tak dikelola bijak, keinginan Badan Usaha Milik Adat (BUMA) Riau atas 39 persen saham PHR, tanah tercemar, masalah lahan-lingkungan, hingga ledakan pipa gas baru-baru ini di Indragiri Hulu (Inhil). Satgasus Pemprov Riau harus fokus menyikapi ini “tidak cukup baik saja, tapi harus benar”. Optimalkan sumber daya daerah agar linier dengan dampak eksplorasi, ciptakan iklim usaha kondusif, dan tingkatkan kesejahteraan masyarakat tempati.
Permigastara mengajak pemerhati migas-EBT, dunia usaha, dan pihak terkait membuka ruang dialog luas.
> “Tata kelola yang membumi harus menghasilkan nilai tambah SDA untuk kemaslahatan Indonesia umumnya dan Riau khususnya,” pungkas Peri Akri, yang juga dikenal dengan salam “Mahadaya Energi”.
/H4N4EL





















































Discussion about this post