Gambar: Nyimas Choiriyah Halim, Kepala Perwakilan Wilayah Utusan Rakyat Provinsi Sumatera Selatan, tampil anggun mengenakan busana muslim dan hijab berwarna putih dengan aksen renda serta kalung manik-manik, menyampaikan pesan refleksi Isra Miraj 2026 sebagai momentum penguatan iman dan keteladanan dalam kehidupan modern.
Palembang (Utusan Rakyat) – Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di tahun 2026 ini mengajak umat Islam untuk merenungkan mukjizat luar biasa yang tidak hanya menjadi puncak keimanan, tetapi juga pedoman keteladanan dalam berbagai aspek kehidupan. Perjalanan malam itu “dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra) lalu naik ke Sidratul Muntaha (Mi’raj)” mengukir sejarah kebesaran Allah SWT yang memperkuat keyakinan, mendorong ketaatan total, dan menyempurnakan keimanan umat.
Nyimas Choiriyah Halim, Kepala Perwakilan Wilayah (Kaperwil) Utusan Rakyat Provinsi Sumatera Selatan, menekankan bahwa Isra Miraj bukan sekadar kisah perjalanan spiritual dimalam hari, melainkan pelajaran hidup yang relevan. “Peristiwa tersebut Rasulullah SAW menerima perintah sholat lima waktu dalam sehari semalam yg diwajibkan untuk diri-nya beserta umatNya secara langsung dari Allah sebagai bukti betapa tinggi nya ibadah sholat di bandingkan ibadah ibadah lainnya, sampai sampai perintah nya tanpa perantara, sehingga ketika seseorang mendirikan sholat tidak ada jarak kedekatan seorang hamba dengan sang Pencipta nya. Dampaknya hingga kini: keyakinan kita pada kekuasaan Allah yang tak terbatas, ketaatan tanpa ragu terhadap perintah-Nya, dan keimanan yang semakin matang,” ujar Nyimas Choiriyah Halim dalam rilis ini.
Sejarah Singkat dan Dampak Spiritual
Secara historis, Isra Miraj terjadi sekitar tahun 621 M di Mekah, saat Nabi SAW menghadapi tekanan berat dari kaum Quraisy. Allah SWT membawanya melintasi langit dalam semalam, bertemu para nabi terdahulu, dan menyaksikan surga-neraka. Mukjizat ini langsung memperkuat keyakinan Nabi SAW dan sahabatnya, seperti Abu Bakar yang dijuluki Ash-Shiddiq karena percaya tanpa syarat. Bagi umat hari ini, hal ini berdampak pada penguatan iman: kita diajak percaya pada yang ghaib, taat pada shalat sebagai tiang agama, dan iman yang holistik mencakup ruh dan raga.
Keteladanan dalam Aspek Kehidupan Sehari-hari
Isra Miraj menyisipkan teladan Nabi SAW yang bisa kita terapkan di era digital 2026 ini.
Berikut pemahaman praktis dari berbagai aspek:
– Aspek Spiritual dan Ibadah: Perintah shalat lima waktu mencontohkan ketaatan instan. Teladan: Bangun subuh untuk shalat berjamaah, tingkatkan konsistensi seperti Nabi yang langsung patuh, sehingga iman kita anti rapuh terhadap godaan duniawi.
– Aspek Keluarga dan Pendidikan: Nabi bertemu orang tua di langit, mengajarkan bakti kepada ibu-bapak. Teladan: Prioritaskan quality time keluarga, ajari anak soal Isra Miraj melalui cerita interaktif di TikTok atau buku digital, bangun generasi beriman kuat.
– Aspek Pekerjaan dan Ekonomi: Perjalanan cepat Nabi melambangkan efisiensi ilahi. Teladan: Di Sumsel, terapkan kerja cerdas seperti program unggulan provinsi, integrasikan shalat di kantor, hindari riba, dan berbisnis halal untuk ketaatan ekonomi yang berkah.
– Aspek Sosial dan Lingkungan: Saksikan neraka membuat Nabi peduli umat. Teladan: Aktif di komunitas, seperti gotong royong banjir Sumsel, berbagi rejeki kepada sesama yang membutuhkan atau kampanye lingkungan hijau, terapkan toleransi seperti Nabi jumpa nabi lain, perkuat harmoni multikultural.
– Aspek Kesehatan dan Psikologis: Isra Miraj pulihkan hati Nabi dari duka. Teladan: Praktikkan mindfulness via dzikir post-shalat, kelola stres pandemi sisa dengan olahraga ringan, dan iman sebagai obat jiwa di tengah tekanan medsos.
Nyimas Choiriyah Halim menambahkan, “Di tengah dinamika Sumatera Selatan yang maju, Isra Miraj 2026 ini jadi momentum reset iman. Mari terapkan keteladanan Nabi agar keyakinan kita tak goyah, ketaatan jadi gaya hidup, dan keimanan membawa kemakmuran bersama.”
/Nyimas Choiriyah Halim





















































Discussion about this post