Gambar: Konferensi pers Posko Terpadu TNI di Terminal Medan Panjang mengenai penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatera. Ruangan konferensi penuh dipadati puluhan jurnalis dan kru media yang membawa kamera profesional dan tripod, menghadap meja pimpinan yang ditempati sejumlah pejabat TNI dan pemerintah daerah berseragam militer dan sipil. Di belakang meja terpampang backdrop bertuliskan “Posko Terpadu TNI Penanggulangan Bencana Alam di Wilayah Medan Panjang” dengan latar kamuflase militer dan lambang TNI, sementara dua layar monitor besar menampilkan peta digital wilayah terdampak dan data terkini penanganan bencana.
Jakarta (Utusan Rakyat) – Presiden Prabowo Subianto secara tegas menginstruksikan penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, serta Sumatra Barat sebagai prioritas nasional tertinggi. Bencana yang dimulai sejak akhir November 2025 ini telah menewaskan sedikitnya 631 orang, dengan 472 lainnya hilang dan 2.600 terluka, serta memaksa lebih dari 1 juta warga mengungsi dari total 3,3 juta jiwa terdampak di 50 kabupaten/kota.
Pemerintah memobilisasi seluruh sumber daya nasional, termasuk dana dan logistik penuh melalui Dana Siap Pakai (DSP), untuk memastikan bantuan tiba tanpa hambatan. Rincian korban jiwa per provinsi mencapai 283 di Sumatra Utara (terparah di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Sibolga), 165 di Sumatra Barat (Pesisir Selatan dan Padang), serta 156 di Aceh (Aceh Utara hingga Aceh Timur).
Presiden menekankan agar seluruh lembaga ekstra responsif dalam penyelamatan korban, distribusi bantuan, dan pemulihan fasilitas vital. Kebutuhan mendesak seperti makanan siap saji, air bersih, serta perlengkapan khusus perempuan dan anak-anak diprioritaskan pengiriman melalui semua jalur tersedia.
Logistik diperkuat dengan lebih dari 50 helikopter gabungan untuk akses udara, ditambah kapal TNI dan swasta via laut. Di Aceh Tamiang, jalur darat Medan-Aceh Tamiang telah terbuka sejak 2 Desember 2025, memungkinkan pasokan logistik tembus lancar; pasokan BBM juga ditingkatkan segera.
Kerusakan infrastruktur masif mencakup 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rusak sedang, 20.500 rusak ringan, 277 jembatan putus, serta 322 fasilitas pendidikan lumpuh. Tower listrik ditargetkan pulih dalam 2 hari, sementara pemerintah paralel menyelidiki penyebab bencana untuk pencegahan.
(H4N4EL)




















































Discussion about this post