Gambar: Agoes S. Alam (Agoes Budianto) saat menyampaikan pidato dalam salah satu kegiatan organisasi. Beliau menjabat sebagai Ketua Forum Koperasi TKBM se-Sumatera dan Ketua Umum Dewan Kesenian Kota Dumai.
DUMAI (Utusan Rakyat) – Pimpinan Forum Koperasi TKBM se-Sumatera sekaligus Ketua Umum Dewan Kesenian Kota Dumai, Agoes S. Alam (dikenal juga sebagai Agoes Budianto), memberikan apresiasi penuh terhadap inisiatif Gubernur Riau Abdul Wahid terkait penerapan konsep take on product dalam mekanisme Dana Bagi Hasil (DBH) daerah. Langkah progresif ini dinilai dapat memberikan multiplier effect positif bagi kemajuan multisektor di Provinsi Riau.
Konsep Take On Product: Solusi Keadilan Fiskal
Konsep yang diusung Gubernur Abdul Wahid ini mengacu pada sistem distribusi dana berdasarkan total nilai produksi yang dihasilkan daerah. Data menunjukkan bahwa Riau berhasil menghasilkan produk dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp1.112 triliun pada tahun 2024.
Jika sistem ini diterapkan dengan alokasi sebesar 10 persen dari total nilai produksi daerah, Provinsi Riau berpotensi memperoleh dana fiskal lebih dari Rp100 triliun untuk memperkuat kapasitas pembangunan. “Dengan besaran dana tersebut, Riau dapat mengakselerasi pembangunan infrastruktur yang memadai dan mengelola tata kelola pemerintahan dengan lebih otonom,” demikian penegasan Gubernur Wahid.
Dampak Multidimensional untuk Kesejahteraan Rakyat
Menurut analisis Agoes S. Alam, implementasi skema ini akan menghadirkan transformasi di berbagai lini kehidupan masyarakat Riau. Dari aspek ekonomi, injeksi dana tambahan akan menciptakan peluang lapangan kerja baru melalui percepatan proyek-proyek pembangunan dan stimulasi investasi regional.
Sektor pendidikan juga akan merasakan dampak positif melalui ekspansi program beasiswa, renovasi dan pembangunan fasilitas pendidikan, serta penguatan program edukasi budaya dan seni daerah.
Di bidang kesehatan, peningkatan kapasitas fiskal memungkinkan pembangunan fasilitas kesehatan baru, peningkatan kualitas layanan medis di wilayah terpencil, dan pengadaan peralatan medis dengan teknologi terkini.
Aspek sosial-budaya juga tidak luput dari manfaat skema ini, khususnya untuk konservasi warisan budaya Melayu dan pengembangan industri kreatif berbasis kearifan lokal.
Visi Kemandirian dan Pembangunan Berkelanjutan
“Konsep ini bukan sekadar persoalan numerik, melainkan investasi untuk masa depan Riau yang lebih gemilang. Melalui skema take on product, kita dapat mewujudkan kemandirian ekonomi regional, memperkokoh jati diri budaya, dan membangun masyarakat yang lebih prosperous,” ujar Agoes dalam pernyataannya.
Sebagai tokoh yang memiliki peran ganda di bidang koperasi dan kesenian, Agoes menekankan pentingnya fokus pada agenda-agenda strategis yang memberikan manfaat konkret bagi masyarakat. “Riau memerlukan kebijakan yang implementatif dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat, bukan sekadar wacana yang menghabiskan energi tanpa hasil nyata,” tegasnya.
Momentum Strategis untuk Perubahan
Dukungan dari berbagai elemen masyarakat terhadap usulan Gubernur Abdul Wahid menunjukkan tingginya ekspektasi publik terhadap realisasi skema take on product. Dengan track record Riau sebagai salah satu provinsi penyumbang PDRB terbesar nasional, implementasi konsep ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah-daerah lain dalam mengoptimalkan potensi sumber daya untuk kesejahteraan masyarakat.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi Riau dalam mengatasi berbagai tantangan fiskal, termasuk permasalahan tunda bayar DBH yang mencapai Rp284 miliar, serta penurunan produksi migas dari 400.000 barel per hari menjadi hanya 140.000-160.000 barel per hari.
(ZA)




















































Discussion about this post