Gambar: Potret Indra G. Haroen, Peneliti Riset Inovasi Daerah Indonesia (RiDI).
RUBRIK OPINI
Dumai (Utusan Rakyat) – Pernahkah engkau merasa sia-sia, kehilangan arti dari seluruh makna perjuangan yang pernah kau bela, sejak belia hingga kini berdarah muda? Atau, pernahkah engkau belajar pada kehidupan, agar tetap bersyukur meski berada dalam ketiadaan? Jika belum, belajarlah. Karena nanti ada saatnya ketika hanya Tuhan yang dapat menolongmu dengan cinta kasih-Nya. Setidaknya, ilmu statistik sudah menyatakannya lewat Inflasi. Semua harga semakin naik membumbung tinggi, kecuali harga diri, yang terus mengalami penurunan dalam jumlah stock dan tidak pernah menemukan equilibrium baru. Rupanya, Adam Smith dan seluruh ekonom klasik memang tidak pernah belajar bahasa Indonesia, dan lupa dengan konsep “Harga Diri”.
Kebaikan dan kebenaran memang tidak selalu populer di Dunia nyata. Kebanyakan ia hanya menjadi milik para Darwis yang papakedana dan kaum proletar yang ada di gorong-gorong khatulistiwa. Namun belakangan ini, kebenaran dan kebaikan juga masuk gorong-gorong dan berusaha merongrong borjuisasi dan kemapanan, dengan sentuhan skenario layar lebar menyambar hati para pemberi suara yang kurang bernalar. Membakar semangat, sampai hangus, kemudian hanya asap hitam yang tersisa dari sisa-sisa karbondioksida minyak bertimbal. Katamu, kita harus berpisah di titik ini, karena berbeda jalan dan haluan.
Aku masih ingat, ketika dulu kita berarung jeram pada sebuah sungai nan meliuk dan berarus deras di sekitar Jawa bagian tengah. Dalam pengarungan itu, kita mendapatkan hadiah double main stream, yang sama-sama memiliki jebakan tebing-tebing Under Cut, namun dengan tantangan dan karakteristik yang berbeda. Pastinya, posisi itu mengancam keselamatan seluruh awak perahu. Kau berteriak, “Jangan lepaskan dayungmu, apabila kau tak ingin dikelabui air yang terus mengalir”. Bagi mereka yang faham, maka dapatlah ditemukan titik scouting di arus Eddy, sementara yang lainnya keliru mencari posisi, pasti akan terjebak masuk ke dalam Hole atau hanya akan terus berputar-putar di Hydrolic. Apabila tak menguasai Eskimo Roll, maka kau akan terjebak lemas tanpa sempat punya harapan.
Melakukan scouting di posisi eddy tentu hanya bersifat sementara, karena substansi pengarungan tetap harus dilanjutkan, Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus cepat membuat sebuah keputusan untuk memilih jalur pengarungan,
Ketika “Ke Hilir Berjeram Ke Hulu Karam” maka satu-satunya pilihan adalah Dayung Maju.
Kalau kau tak memiliki dayung dan perahu, gunakan kaki dan tanganmu. Pilihlah satu jalur pengarungan yang paling memungkinkan untuk sampai ke muara, karena Laut Tak Pernah Membuang Muara dan Hutan Tak Pula Membuang Latah.
Sebenarnya, aku benci untuk jatuh cinta lagi ! karena sebagian orang. memang cuma terlahir sebagai objek lelucon dan simbol kebodohan. Aku tak sanggup untuk mengganti cinta. Tapi sayangnya, aku hanya belajar delapan simpul dasar, dan tak satu pun dari sumpul itu yang dapat mengikat hati mu. Sedangkan rumus yang paling ku tau, apabila kau menggunakan simpul Bowline, maka janganlah lupa memastikan ujung talinya berada di dalam lope yang diamankan dengan overhand knot. Ketiadaan itu membuatku sama sekali merasa tak berdaya, yang sesungguhnya sedang merasa kalah tak berguna, atau memang tak pernah berjasa dan belum pernah berbuat apa-apa. Kemudian, hanyalah seangguk tundukan lesu yang dapat ku bawa, tatkala memahami bahwa aku hanyalah serpihan kerikil kecil di dalam sebuah keranjang mutiara.
Cinta kita memang cinta yang aneh. Cinta yang kau berikan bukan untuk ku, dan cinta yang ku miliki juga bukan untukmu. Tapi kita lebur dalam satu cinta itu, hingga halal untuk meneteskan darah ku dan darah mu demi mempertahankan cinta.
Adakah kau ingat ketika kita bercanda ingin memindahkan Ibu dari kota-kota lima nusa ? atau masihkah menegangkan ketika kita bicara gelombang elektromagnetik ? Impian tentang medan-medan listrik yang akan kita gunakan untuk menutup keluarnya udara dari dua samudera yang terapit dua benua. Kita akan menjual udara ! bahkan tak secuilpun besi yang bisa menembus perisai yang kita bicarakan. Itu satu dekade yang lalu, dan ku rasa kau tak lagi mampu mengingatnya, karena statistik juga berkata, kau telah mengalami penurunan daya ingat dan pendengaran.
Hari ini aku mengajakmu bicara, pada hati yang masih membuatmu terdiam, tatkala mentari terbenam telah mulai padam menyenandungkan bait-bait malam. Lalu kita duduk dibebatuan, menatap sebuah dock yard tua. Memang betapa mahal bahasa mu. Lebih mahal dari harga karakter berkirim telegram. Namun, tak satupun karakter mahal itu yang dapat dimengerti, konon pula menyiratkan bijaksana. Mahal mu dengki karena tak berkata-kata. Sedangkan Tuhan, pernah memberi petunjuk melalui bahasa kata per kata. Sungguh, bahasa mu tak mengandung makna, sederet syair tanpa aksara dan tinta.
Kali ini, aku memutuskan untuk pergi. Sebenarnya aku tak lupa dan sangat ingin untuk mengecup keningmu, namun hari ini engkau tak begitu akrab padaku, biarlah ku titipkan kecupan itu pada bayu yang semilir. Selamat tinggal, aku harus pergi sampai bertemu kembali.
Entahlah jika nanti, apabila salah satu dari kita pergi dan tak akan pernah kembali, aku hanya tak ingin kau tau dimana pusaraku. Kemudian, biarlah kita hanya saling mendo’akan, tanpa perlu saling mencari ataupun merindu. Entah Nanti, Apabila Kita Telah Merdeka.
Kampung Tengah, 04 Juli 2014
Penulis: Indra G. Haroen



















































Discussion about this post