Gambar: Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi) ditampilkan dengan kemeja putih berlatar bendera Merah Putih yang berkibar.
RUBRIK OPINI
Catatan pena relawan: Mahpudin
Selama 10 tahun menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, hingga masa akhir kepemimpinannya pada 20 Oktober 2024, Joko Widodo (Jokowi) berhasil mencatat prestasi luar biasa dengan tingkat kepuasan masyarakat mencapai 87% dari lebih 220 juta pemilih. Keberhasilan ini istimewa karena Jokowi bukanlah ketua umum partai politik (posisi yang biasanya menjadi kunci kekuatan politik di Indonesia) namun mampu memimpin dengan kekuatan pribadi sebagai single fighter yang jujur dan berintegritas.
Berbeda dengan politisi lain yang didukung jaringan besar partai dan dana melimpah, Jokowi tampil sebagai sosok yang mengandalkan kejujuran dan strategi cerdas dalam menekan praktik korupsi, khususnya yang melibatkan oknum ketua umum partai politik sejak periode 2014-2024. Ia menjadi penjaga integritas publik yang tangguh, menjebak dan mengungkap keserakahan para oknum tersebut yang mencoba meraup kekayaan dari dana APBN.
Ketua umum partai umumnya memiliki puluhan anggota DPR RI, ratusan anggota DPRD provinsi, dan sekitar ribuan anggota DPRD kabupaten/kota yang menjadi “anak buah” politik mereka, didukung dengan jaringan dan dana besar.
Jokowi, di sisi lain, tidak memegang posisi ketua umum partai sekalipun, namun mampu menggerakkan dukungan luas lewat kebijakan nyata dan integritas pribadi yang tinggi.
Dalam 10 tahun masa kepemimpinannya, Jokowi sukses menjalankan program sosial yang luas dan berdampak nyata dengan anggaran total mencapai 20 triliun rupiah per tahun, melibatkan 17 kartu bansos utama seperti PKH, Bansos, KIP, UMKM, dan Pra Kerja. Bantuan sosial ini merupakan bentuk “sodaqoh kerakyatan” yang menembus hingga lapisan masyarakat paling membutuhkan, menjadikan rakyat sebagai pahlawan utama di era Jokowi.
Jokowi dikenal sebagai politisi ulung yang mampu menaklukkan dan mengecoh para mafia politik dan pengusaha oknum yang mencoba menciptakan sistem korupsi terselubung dan sulit dibuktikan. Melalui pendekatan jitu, Jokowi membuat para ketua umum partai serakah harus bungkam dan tak berdaya di hadapan tekanan transparansi dan reformasi anggaran yang digalakkannya.
Meskipun pernah muncul slogan Jokowi tiga periode sejak 2022, yang akhirnya tidak memungkinkan secara konstitusi, suara politik Jokowi kembali mengkristal dengan wacana lanjutan. Ia menyinggung masa depan politik melalui tokoh-tokoh seperti Prabowo dan Gibran yang diproyeksikan memimpin dua periode berikutnya (2024-2029).
Jokowi membuktikan bahwa seorang pemimpin tidak harus memiliki jaringan politik besar dan posisi ketua umum partai untuk menjadi penguasa yang dicintai rakyat dan efektif dalam memerangi korupsi. Dengan pendekatan uniknya sebagai single fighter, beliau mengukir sejarah baru dalam demokrasi Indonesia yang berani menghadapi dan membenahi sistem politik yang lama penuh tantangan.






















































Discussion about this post