Gambar: Ilustrasi seorang nasabah wanita yang menangis histeris di hadapan petugas bank setelah kehilangan saldo tabungan senilai Rp200 juta. Petugas bank tampak menunjukkan ekspresi serius saat menangani keluhan nasabah di kantor cabang. (Dok.: UtusanRakyat/AI)
Karo (Utusan Rakyat) – Insiden kehilangan saldo tabungan senilai Rp200 juta yang menimpa nasabah Mayesti br Perangin-angin pada salah satu bank plat merah menjadi sorotan publik, terutama setelah beredar luas video viral yang memperlihatkan rasa histeris nasabah di tengah kantor cabang bank tersebut. Kejadian ini memicu diskusi luas terkait keamanan layanan perbankan digital dan tata kelola internal bank negara yang harus menjadi perhatian serius.
Kronologi Kejadian
Pada Selasa dini hari, 11 November 2025, Mayesti mengalami kehilangan saldo secara tiba-tiba saat mengakses rekening tabungan melalui aplikasi m-banking. Di tengah usaha mengakses rekening, akun m-banking miliknya sempat terblokir tanpa sebab yang jelas, padahal ia yakin tidak melakukan kesalahan saat memasukkan password. Ia baru dapat membuka kembali akunnya setelah saldo yang tersimpan diketahui sudah lenyap.
Situasi ini langsung memicu kepanikan dan rasa frustrasi yang terdokumentasi dalam video viral di platform TikTok oleh akun @ownerribunacollection. Video tersebut memperlihatkan Mayesti menangis histeris di depan petugas bank, yang pada awalnya justru meminta agar kasus ini tidak dipublikasikan. Viralitas video membuat perhatian publik dan media meningkat tajam, yang kemudian mendorong pihak bank melakukan investigasi internal.
Tindakan dan Pernyataan Bank
Pemimpin Cabang BRI Kabanjahe, Donny Cahyono, memberikan penjelasan resmi bahwa setelah melakukan investigasi internal secara menyeluruh, kejadian ini bukan disebabkan kelalaian nasabah. Donny menyatakan pihak bank bertanggung jawab dan segera mengganti seluruh dana yang hilang agar nasabah tidak dirugikan.
Donny menekankan, “Kami memandang serius setiap laporan nasabah dan memastikan proses penanganan dilakukan dengan transparan dan penuh tanggung jawab. Penggantian dana merupakan bagian dari komitmen kami dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan kami.”
Selain itu, Donny juga menegaskan bahwa BRI terus memperkuat sistem keamanan, memperbaiki tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG), serta meningkatkan pengawasan operasional untuk mencegah kejadian serupa.
Analisa Penyebab dan Faktor Pendukung Kejadian
1. Kelemahan Sistem Keamanan Digital
Insiden ini mengindikasikan adanya celah pada sistem keamanan aplikasi m-banking, yang memungkinkan pemblokiran akun secara tidak wajar dan hilangnya saldo secara ilegal. Sistem autentikasi dan pemantauan transaksi harus dievaluasi secara mendalam.
2. Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal
Terungkapnya kasus dugaan penggelapan oleh oknum internal bank memperlihatkan risiko signifikan dari aspek sumber daya manusia dan pengawasan internal yang belum optimal. Proses penangkapan pelaku kini tengah berjalan, menandakan bank juga menghadapi tantangan pada level korporasi.
3. Kurangnya Transparansi Awal
Permintaan pihak bank agar kasus ini tidak dipublikasikan justru kontraproduktif, menurunkan kredibilitas dan menimbulkan spekulasi negatif di masyarakat. Komunikasi awal yang terbuka sangat penting agar nasabah dan publik memahami kondisi sebenarnya.
Rekomendasi Penanganan Krisis Perbankan
– Bank harus berkomitmen pada keterbukaan informasi sehingga setiap masalah dapat segera diketahui dan ditangani publik secara tepat.
– Memperkuat pengamanan teknologi digital dengan mengadopsi teknologi terbaru seperti autentikasi multifaktor, sistem deteksi anomali, dan enkripsi data end-to-end.
– Melakukan pelatihan dan audit reguler terhadap karyawan dan sistem operasional untuk mencegah potensi kecurangan internal.
– Mengedukasi nasabah melalui sosialisasi intensif terkait keamanan penggunaan fitur perbankan digital.
– Memberikan dukungan psikologis dan layanan pelanggan khusus kepada nasabah yang mengalami kerugian agar proses pemulihan berjalan dengan baik.
Implikasi Kepercayaan dan Reputasi Bank
Kepercayaan pelanggan adalah modal utama seorang bank, terutama institusi milik negara yang memiliki mandat menjaga stabilitas ekonomi nasional. Kejadian ini berpotensi merusak citra dan menimbulkan keraguan publik terhadap integritas layanan. Namun, tindakan cepat mengembalikan dana nasabah dan komitmen perbaikan menunjukkan adanya niat baik untuk memperbaiki kondisi.
Upaya pemulihan kepercayaan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan peningkatan kualitas layanan, transparansi, dan keamanan. Bank harus membuktikan bahwa keamanan nasabah adalah prioritas utama dan setiap risiko akan diantisipasi secara proaktif.
Perspektif Multidimensi
– Teknologi: Perlu pengembangan sistem keamanan digital dan inovasi continuous monitoring untuk melindungi nasabah.
– Manajemen dan Tata Kelola: Penguatan proses audit, mekanisme pengendalian internal, dan pelaporan risiko untuk meminimalkan potensi fraud.
– Hukum: Penegakan hukum tegas bagi pelaku penggelapan untuk memberikan efek jera dan memastikan keadilan.
– Sosial-Psikologis: Memberikan perhatian pada dampak psikologis korban dan memberikan ruang konsultasi agar kepercayaan bisa pulih.
– Public Relations: Peningkatan komunikasi yang terbuka dan edukatif agar publik memahami proses dan tindakan bank dengan jelas.
Kejadian kehilangan saldo ini menjadi momentum penting bagi seluruh industri perbankan untuk mengevaluasi sistem dan tata kelola guna meningkatkan perlindungan nasabah dan menjaga kredibilitas institusi. Bank plat merah sebagai pilar ekonomi nasional harus menjadi contoh penerapan keamanan dan pelayanan terbaik demi kepercayaan masyarakat.
(H4N4EL)



















































Discussion about this post