Gambar: Tampak suasana interaksi warga yang antusias bertransaksi di stan sayuran pasar murah di Kertapati, sementara pada bagian bawah terlihat jajaran pejabat setempat termasuk Camat Kertapati Rifandi Putra dan Lurah Karya Jaya Deo Lady Fera bersama staf yang kompak mengepalkan tangan sebagai simbol komitmen pengendalian inflasi daerah dan dukungan terhadap daya beli masyarakat.
Palembang (Utusan Rakyat) – Di tengah lonjakan harga sembako jelang tutup tahun, Pemerintah Kota Palembang tidak sekadar menggelar pasar murah. Agenda yang berlangsung di Jl. Mayor Jenderal Satibi Darwis, Kelurahan Karya Jaya, Kertapati, Selasa (09/12/2025), itu berubah menjadi simulasi nyata bagaimana intervensi harga pemerintah bisa mengoreksi pasar dalam hitungan jam.
Sejak pagi, ribuan warga memadati lokasi. Namun yang menarik bukan hanya antrean panjang, melainkan dampaknya: harga sejumlah komoditas di pasar sekitar Kertapati mulai menurun hanya beberapa jam setelah pasar murah dibuka.
Camat Kertapati Rifandi Putra menegaskan pasar murah ini merupakan respons langsung terhadap “liarnya” harga pangan dalam dua pekan terakhir.
“Gelombang kenaikan harga tidak bisa dihindari. Tapi dengan intervensi seperti ini, harga kembali seimbang. Pedagang di pasar sekitar pun ikut menurunkan harga agar tidak ditinggalkan pembeli,” ujar Rifandi.
Pernyataan itu menegaskan fungsi pasar murah bukan sekadar distribusi sembako murah, tetapi alat koreksi harga yang mampu menekan spekulasi di level pedagang.
Berbeda dari gelaran serupa di kota lain yang biasanya berskala kecil, pasar murah ini mengerahkan sekitar 20 UMKM dan lebih dari 40 distributor. Beras SPHP, minyak goreng, telur, ayam, daging, dan aneka bumbu dapur dijual jauh di bawah harga pasar.
Dengan pasokan besar, stok tetap terjaga meski diserbu pembeli—sebuah kondisi yang jarang terjadi di pasar murah daerah lain yang kerap kehabisan barang dalam satu jam.
Tambahan potongan harga Rp10.000 untuk setiap KTP dari dua bank daerah membuat tingkat kunjungan melonjak. Insentif kecil tersebut terbukti memiliki daya dorong besar terhadap partisipasi masyarakat.
Antrian memanjang sejak pagi memperlihatkan bagaimana dukungan lembaga keuangan lokal bisa meningkatkan efektivitas program pengendalian harga.
Lurah Karya Jaya Deo Lady Fera menjelaskan pemilihan lokasi bukan kebetulan.
“Ini kawasan dengan kebutuhan pangan tinggi. Bahkan warga dari Keramasan ikut datang karena jarak dekat. Artinya program ini memang ditunggu,” kata Deo.
Ia berharap pelaksanaan dibuat rutin tiap tiga bulan untuk mengantisipasi fluktuasi harga yang makin sering tanpa pola jelas.
Pasar murah Palembang tidak hanya memenuhi kebutuhan warga, tetapi menjadi barometer daya beli dan indikator tekanan ekonomi di lapisan terbawah.
Dengan koordinasi RT, RW, dan perangkat kelurahan, program ini menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak harus menunggu intervensi pusat. Pemerintah daerah dapat menjadi garda terdepan ketika volatilitas harga meningkat.
Kontributor : Hotman Ferizal Saragi/amir





















































Discussion about this post