Gambar: Sejumlah relawan berjalan kaki menyusuri akses jalan yang rusak parah dan tertutup material lumpur tebal akibat longsor di kawasan Sipange, Kecamatan Tukka. Para relawan tampak membawa perbekalan logistik dengan dipanggul di kepala dan punggung, berusaha menembus medan sulit yang dikelilingi pepohonan tumbang dan tanah merah yang licin demi menyalurkan bantuan perdana kepada warga yang terisolir.
Sipange, Kecamatan Tukka (Utusan Rakyat) – Pada pukul 13:00 tepat, Selasa 9 Desember 2025, tim relawan dari Pekanbaru bersama beberapa rekannya nekat memulai perjalanan berbahaya menuju Sipange, Kecamatan Tukka. Wilayah ini sepenuhnya terisolir akibat longsor dahsyat yang menutup akses jalan utama dengan tumpukan material masif. Konfirmasi langsung dari Sekretaris Lurah dan Babinsa setempat menegaskan bahwa belum ada bantuan resmi yang menyentuh daerah ini sama sekali.
Wartawan Utusan Rakyat, Zakius Duha, turut serta dalam ekspedisi heroik ini dan melaporkan langsung dari lokasi. Meski tim sempat ragu berangkat karena hujan deras yang kembali mengguyur sejak pagi, serta was-was terhadap longsor susulan yang mengancam nyawa, semangat kemanusiaan akhirnya menang. Mereka maju dengan persiapan minimal, siap menghadapi segala risiko demi warga yang kehilangan segalanya.
Kondisi di Sipange sungguh memilukan: seluruh rumah-rumah warga luluh lantak, tak bersisa apa-apa di antara puing-puing lumpur tebal dan batu-batu besar yang berguling dari lereng bukit. Ratusan keluarga kini bertahan dalam pengungsian darurat di gedung SDN setempat. Posko sementara ini sempit, becek oleh air hujan, dan minim fasilitas dasar seperti air bersih, listrik, serta obat-obatan.
Relawan Pekanbaru menjadi penyelamat pertama yang berhasil menembus isolasi total. Mereka membawa logistik terbatas berupa makanan instan, selimut tebal, dan peralatan P3K sederhana. Kedatangan tim langsung disambut tangis haru, pelukan erat, dan ucapan syukur dari warga yang sudah berhari-hari kelaparan serta trauma mendala – semua terekam jelas oleh kamera dan catatan Zakius Duha.
Warga Sipange bersuara serempak dengan permintaan mendesak yang tak berubah: segera eskalasi status bencana lokal ini menjadi status nasional. Mereka butuh intervensi pemerintah pusat untuk evakuasi helikopter, alat berat membuka akses jalan, serta dana rekonstruksi besar-besaran. “Relawan Pekanbaru adalah malaikat penyelamat kami yang rela taruh nyawa,” ujar seorang ibu pengungsi kepada Zakius Duha, sambil menunjukkan anak-anaknya yang kedinginan dan lemas karena kelaparan.
Sebelum berangkat dari Pekanbaru, tim menggelar diskusi panjang di markas mereka. Mereka mempertimbangkan prakiraan cuaca buruk dari BMKG serta laporan longsor susulan di jalur tetangga. Zakius Duha ikut memotivasi dengan tekad jurnalistiknya, mendorong tim untuk tetap maju demi liputan yang bisa membangunkan publik nasional.
Perjalanan dibagi tugas secara ketat: rombongan motor trail memimpin di depan untuk deteksi bahaya, sementara truk pick-up mengangkut logistik di belakang, lengkap dengan strategi evakuasi darurat jika longsor datang tiba-tiba. Kini, setelah sukses menembus, tim memohon dukungan tambahan dari relawan lain, pemerintah daerah, hingga nasional untuk rotasi bantuan berkelanjutan, termasuk tenda darurat, tim medis, dan makanan bergizi.
Solidaritas relawan Pekanbaru jadi teladan gotong royong bangsa lawan musibah alam. Wujudkan status nasional untuk Sipange sekarang – jangan biarkan pahlawan kemanusiaan berjuang sendirian!
(Zakius)





















































Discussion about this post