Gambar: Foto bersama jajaran pengurus NPCI Provinsi Sumatera Selatan, perwakilan Pemerintah Kabupaten Muara Enim, dan para atlet disabilitas dengan mengenakan seragam olahraga di atas panggung usai pembukaan acara. Latar belakang menampilkan spanduk resmi bertuliskan “Musyawarah Olahraga Kabupaten Ke-II NPCI Kabupaten Muara Enim” yang dilaksanakan pada tanggal 30 Januari 2026. Tampak Ketua NPCI Sumsel Rian Yohwari duduk di kursi roda pada barisan depan tengah, dikelilingi semangat antusiasme para peserta Musorkab.
MUARA ENIM (Utusan Rakyat) – Musyawarah Olahraga Kabupaten (Musorkab) ke II National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Muara Enim, Kamis (30/1/2026), tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi. Di balik forum ini, tersimpan persoalan mendasar: bagaimana memastikan atlet disabilitas benar-benar mendapatkan ruang, pembinaan, dan masa depan yang layak dalam sistem olahraga nasional.
Musorkab yang dihadiri Ketua NPCI Provinsi Sumatera Selatan Rian Yohwari, perwakilan Pemerintah Kabupaten Muara Enim Hendi Febriansyah, serta Ketua NPCI Kabupaten Lahat M. Soleh tersebut menjadi momentum refleksi atas tantangan pembinaan atlet disabilitas di daerah.
Ketua NPCI Sumsel Rian Yohwari secara terbuka menegaskan bahwa potensi atlet disabilitas di Muara Enim sejatinya sangat besar. Namun potensi itu kerap terhambat oleh lemahnya tata kelola organisasi, keterbatasan program berkelanjutan, hingga minimnya kesinambungan dukungan.
“Musorkab ini harus menjadi titik balik. Kita tidak bisa lagi berjalan dengan pola seremonial. Atlet disabilitas membutuhkan sistem pembinaan yang jelas, konsisten, dan berpihak pada masa depan mereka,” tegas Rian.
Ia menilai, tanpa manajemen organisasi yang kuat dan sinergi nyata dengan pemerintah daerah, atlet disabilitas akan terus berada di pinggiran, meski telah mengharumkan nama daerah di berbagai kejuaraan.
Pemerintah Kabupaten Muara Enim melalui perwakilan Bupati, Hendi Febriansyah, mengakui bahwa olahraga disabilitas membutuhkan perhatian yang lebih serius. Menurutnya, NPCI memiliki peran strategis bukan hanya dalam mengejar medali, tetapi juga dalam membangun kepercayaan diri dan kemandirian penyandang disabilitas.
“Olahraga bagi atlet disabilitas bukan sekadar kompetisi. Ini tentang martabat, kesempatan yang setara, dan ruang untuk membuktikan kemampuan,” ujar Hendi.
Ia menambahkan, komitmen pemerintah daerah terhadap olahraga inklusif harus diwujudkan dalam kebijakan nyata, bukan sebatas dukungan simbolik.
Musorkab II NPCI Muara Enim diharapkan melahirkan keputusan yang berani, mulai dari pembenahan struktur organisasi, penyusunan program pembinaan jangka panjang, hingga penguatan sinergi lintas sektor. Tanpa langkah konkret, Musorkab hanya akan menjadi agenda tahunan tanpa dampak langsung bagi atlet.
Bagi para atlet disabilitas di Muara Enim, forum ini menjadi harapan baru. Harapan agar kerja keras mereka di lintasan, lapangan, dan arena latihan tidak berhenti pada tepuk tangan sesaat, melainkan berujung pada prestasi, kemandirian, dan masa depan yang lebih bermartabat.
/Kontributor : Hotman Ferrizal Saragi/amir






















































Discussion about this post