Gambar: Kondisi banjir yang melanda Kota Pekanbaru menunjukkan genangan air di ruas jalan utama yang menyebabkan kemacetan lalu lintas parah. Pengendara kendaraan roda dua dan empat terlihat berjuang melewati genangan air setinggi lebih dari 20 cm di jalan-jalan strategis kota. Foto ini merekam situasi nyata dampak buruk yang dialami masyarakat akibat sistem drainase yang belum optimal dan curah hujan tinggi yang melanda kota.
Pekanbaru (Utusan Rakyat) – Kota Pekanbaru kembali menghadapi tantangan serius terkait banjir yang sering datang setiap musim hujan, memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat, khususnya pengendara kendaraan roda dua dan empat. Banjir ini tidak hanya menimbulkan genangan pada pemukiman dan jalanan, tetapi juga menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah hingga banyak kendaraan mengalami mati mesin di jalan. Kondisi ini memaksa pengendara mencari jalur alternatif yang berakibat pada perjalanan yang lebih jauh dan melelahkan.
Kondisi dan Dampak Banjir
Data BPBD Pekanbaru pada tahun 2025 menyebutkan beberapa wilayah rawan banjir, seperti daerah sekitar aliran Sungai Siak dan Sungai Sail, serta titik strategis seperti kawasan Pasar Pagi Arengka dan Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Arifin Ahmad, yang sering terendam air dalam waktu lama. Berdasarkan pantauan, ketinggian genangan bervariasi mulai dari 20 cm hingga lebih dari satu meter pada titik-titik terdampak, dan banjir sempat menyulitkan mobilitas warga hingga menimbulkan kemacetan panjang serta kerusakan mesin kendaraan roda dua.
Di tahun 2025, Pemko Pekanbaru telah membenahi 13 titik banjir strategis melalui normalisasi drainase dan pengerukan sungai anak, yang sudah memperlihatkan pengurangan lama genangan air saat hujan deras. Namun, masih terdapat kendala dalam kapasitas gorong-gorong yang belum memadai menampung air hujan deras sehingga masih berpotensi menyebabkan genangan. Sementara itu, banjir berdampak langsung terhadap sekitar 14.200 jiwa dan lebih dari 100 rumah sempat tergenang, baik di kawasan permukiman maupun area publik.
Kajian Permasalahan
1. Sistem Drainase dan Gorong-Gorong Tidak Optimal
Sistem drainase di Pekanbaru masih belum maksimal, dengan banyak saluran tersumbat oleh sedimentasi dan material bangunan, bahkan kerusakan akibat pembangunan jalan tol lingkar yang menghambat aliran air. Kurangnya gorong-gorong memperparah kondisi saat curah hujan tinggi, sehingga perlu peningkatan kapasitas dan perawatan rutin.
2. Alih Fungsi Lahan dan Tata Ruang yang Tidak Terkontrol
Perluasan permukiman yang masuk ke wilayah resapan air dan kurangnya zona hijau menyebabkan daya serap tanah berkurang. Hal ini diperparah dengan minimnya pengawasan penerapan tata ruang sehingga daerah yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan kini menjadi kawasan padat bangunan.
3. Faktor Alam dan Luapan Sungai
Luapan air dari Sungai Siak dan Sungai Sail akibat pasang surut air laut serta curah hujan yang tinggi menjadi faktor alam yang sulit dihindari, memperburuk situasi banjir, terutama di wilayah sekitar aliran sungai. Kondisi ini memerlukan solusi yang melibatkan kerjasama pemerintah pusat, provinsi, serta kota dalam pengelolaan sungai besar dan kebijakan mitigasi risiko bencana.
Opsi Solusi dan Rekomendasi Kajian
1. Perbaikan dan Normalisasi Sistem Drainase Secara Menyeluruh
Pemerintah harus prioritaskan normalisasi dan perluasan saluran drainase serta tambahan gorong-gorong untuk menampung kapasitas air hujan lebih besar. Disertai program patroli dan perawatan rutin agar tidak terjadi penyumbatan akibat sampah dan sedimentasi.
2. Penguatan Kebijakan Tata Ruang dan Zonasi Resapan Air
Penyusunan dan pengawasan ketat tata ruang perlu diperkuat agar alih fungsi lahan resapan air dapat dihentikan dan area hijau diperbanyak. Menetapkan zona hijau sebagai daerah resapan dan pengendalian pembangunan di daerah rawan banjir bisa mengurangi risiko genangan.
3. Peningkatan Kerjasama Lintas Pemerintah dan Mitigasi Risiko
Sinergi dan koordinasi yang intensif antar pemerintah daerah, provinsi, dan pusat dalam pengelolaan sungai dan kondisi pasang surut diperlukan. Rapat koordinasi rutin dan penanganan terpadu dapat memitigasi dampak luapan sungai serta memperkuat sistem peringatan dini.
4. Penggunaan Teknologi Pemantauan dan Sistem Peringatan Dini Banjir
Pemanfaatan teknologi canggih untuk pemantauan cuaca dan banjir secara real-time akan membantu menginformasikan ancaman banjir lebih cepat kepada masyarakat dan aparat, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan evakuasi warga dapat berjalan efektif.
5. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat
Edukasi terus-menerus kepada warga tentang kesiapsiagaan menghadapi banjir, pelaporan cepat titik genangan, dan upaya menjaga kebersihan saluran air dapat mengurangi dampak banjir dan membantu penanganan lebih optimal.
Herwin MT. Sagala sebagai warga Kota Pekanbaru sangat berharap Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho, beserta Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Pekanbaru dapat segera menyelesaikan masalah banjir akibat hujan tersebut. Ia menginginkan agar persoalan banjir ini tidak lagi mengganggu aktivitas warga sehari-hari dan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tidak terkena dampak yang merugikan.
“Saya berharap pemerintah daerah dapat mengambil langkah nyata dan cepat agar banjir ini tidak berlarut-larut, sehingga masyarakat bisa beraktivitas dengan tenang dan ekonomi kota tetap berjalan dengan baik,” ujar Herwin MT. Sagala.
(H4N4EL)





















































Discussion about this post