Gambar: Ilustrasi pergeseran budaya Indonesia dari kehidupan tradisional yang santun dan gotong royong di desa (kiri) menuju era digital modern yang penuh polarisasi, hoaks, dan ejekan di media sosial (kanan). Gambar menunjukkan kontras antara masyarakat yang saling menghormati dengan masyarakat yang terpecah belah akibat teknologi komunikasi dan politisasi berlebihan, dengan pohon yang akarnya menghubungkan kedua dunia sebagai simbol akar budaya Indonesia yang masih bisa menyatukan kembali bangsa.
Pekanbaru (Utusan Rakyat) – Indonesia selama ini dikenal sebagai bangsa yang ramah, santun, dan menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong. Namun pada era kini, terjadi perubahan budaya sosial yang sangat mencolok dan mengkhawatirkan. Budaya menuduh tanpa bukti dan penggunaan ejekan kasar antar sesama anak bangsa, khususnya dalam ranah politik, semakin menguat dan menggerus harmoni sosial.
Tuduh Dulu, Bukti Nanti: Pola Baru yang Mengikis Kepercayaan
Fenomena “tuduh dulu, bukti nanti belakangan” telah menjadi pepatah tak tertulis yang dipraktikkan banyak orang di media sosial dan ruang publik. Tuduhan dilayangkan tanpa fakta dan bukti kuat, bahkan kerap disertai dengan manipulasi bukti agar terlihat valid.
Contoh nyata:
– Dalam beberapa kasus viral, seseorang dengan cepat menuduh lawan politik melakukan korupsi atau tindakan kriminal tanpa hadirkan bukti yang jelas. Tuduhan langsung menyebar, dan meski bukti ternyata tidak sesuai, stigma negatif tetap melekat.
– Di media sosial, unggahan dengan caption provokatif sering kali jadi viral tanpa verifikasi keakuratan informasi, memancing kemarahan dan perpecahan.
Situasi ini tidak hanya merusak reputasi individu, tetapi juga melemahkan rasa saling percaya di masyarakat. Rasa curiga tumbuh, dan pola komunikasi jadi didominasi oleh dugaan dan konfrontasi.
Bahasa Ejekan yang Merendahkan: “Termul”, “Onta”, dan Simbol Dehumanisasi
Pergeseran budaya lain yang mengkhawatirkan adalah munculnya kata-kata ejekan binatang seperti “termul” (konotasi negatif untuk kelompok tertentu), “onta,” dan istilah-istilah lain yang dipakai untuk merendahkan sesama atas dasar perbedaan politik.
Contohnya:
– Ketika terjadi pilpres atau pilkada, sebagian kelompok memilih melontarkan ejekan binatang kepada lawan politiknya, menuding mereka bodoh, lambat, atau seterusnya, seolah manusia itu sama rendahnya dengan hewan.
– Pada diskusi di ruang publik maupun online, penggunaan istilah binatang menjadi senjata untuk menghina tanpa menyampaikan argumen yang berbobot.
Padahal, budaya Indonesia secara tradisional sangat menghormati nilai kesopanan dan mengedepankan sikap saling menghargai perbedaan dalam bingkai persatuan.
Faktor Penyebab Pergeseran Budaya Ini
Perubahan negatif ini tidak muncul sendiri, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama:
– *Media sosial dan teknologi komunikasi cepat:* Mempercepat penyebaran hoaks dan konten provokatif tanpa proses verifikasi.
– *Polarisasi politik yang dalam:* Politik menjadi ajang pertarungan tajam di mana lawan diperlakukan sebagai musuh.
– *Kurangnya literasi digital dan budaya dialog:* Banyak orang belum terbiasa menggunakan media digital secara kritis dan santun.
– *Ketegangan sosial yang meningkat:* Ekonomi, politik, dan sosial yang tidak stabil memicu emosi negatif dan konflik.
Istilah yang Tepat untuk Pergeseran Budaya Ini
Fenomena ini bisa dirangkum dalam istilah *“Budaya Tuduh-Debat dan Ejek-Humili.”* Istilah ini menyoroti dua pola utama:
– Kebiasaan menuduh tanpa bukti dan debat yang cenderung memecah belah.
– Penggunaan ejekan kasar yang menghumili dan mendekonstruksi kemanusiaan lawan.
Upaya Mengembalikan Budaya Santun dan Gotong Royong
Untuk mengembalikan semangat persatuan dan budaya santun di Indonesia, beberapa langkah penting harus dijalankan:
– *Pendidikan literasi digital dan komunikasi santun* di sekolah dan masyarakat luas, agar generasi muda bisa berinteraksi sehat di ruang digital dan nyata.
– *Kampanye anti-hoaks dan penyebaran informasi yang bertanggung jawab* oleh pemerintah dan organisasi masyarakat.
– *Menghidupkan kembali nilai gotong royong* lewat kegiatan sosial yang mengutamakan kerja sama dan toleransi.
– *Teladan dari tokoh masyarakat dan politisi* dengan sikap santun dan menghindari ujaran kebencian atau ejekan.
Contoh Nyata Perubahan Positif
– Beberapa komunitas lintas agama dan suku mengadakan dialog terbuka dan kerjasama sosial untuk meredam ketegangan politik.
– Program literasi media digital yang digagas oleh lembaga pendidikan mulai diminati dan meningkatkan kesadaran kritis masyarakat terhadap informasi.
Indonesia di titik ini dihadapkan pada pilihan penting: mempertahankan nilai keindonesiaan yang ramah dan santun atau terus ikut arus budaya tuduh-tuduh tanpa bukti dan ejekan yang merusak. Kesadaran kolektif dan kerja sama menjadi kunci utama dalam menjaga persatuan bangsa.
(H4N4EL)






















































Discussion about this post