Gambar: Suasana wawancara dalam program “Cuanomics” Liputan6 SCTV, menampilkan pembawa acara dan narasumber berbincang santai di studio modern dengan latar jendela kota Jakarta. (Dok: youtube.com/@liputan6_news)
Jakarta (Utusan Rakyat) – Gejolak pasar kripto terjadi pada 10 Oktober lalu setelah mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak mencuit rencana pengenaan tarif impor 100% terhadap produk Tiongkok. Langkah Trump ini langsung mengguncang harga aset kripto dunia, menyebabkan harga Bitcoin anjlok 8-10 persen dan altcoin turun hingga 30 persen. Peristiwa ini disebut sebagai “black swan event” karena terjadi tanpa diduga dan memicu kepanikan investor.
Dalam wawancara bersama Liputan6 SCTV, pakar investasi kripto Gabriel Rey mengungkapkan bahwa dirinya mengalami kerugian hingga hampir Rp1 triliun akibat penurunan mendadak tersebut. Ia menyatakan, “Karena ini kan disebut dengan black swan event… Karena siapa yang tahu tiba-tiba Trump mengumumkan bahwa dia taruh 100% tarif di Cina. Padahal sebelumnya kan posisi adem ayem kan. Nah, inilah yang kita sebut dengan black swan, enggak ada yang bisa predict kalau Trump akan melakukan ini,” kata Gabriel Rey, seperti dikutip dari Liputan6 SCTV.
Tiongkok membalas kebijakan tersebut dengan ancaman pembatasan ekspor mineral langka yang sangat dibutuhkan industri teknologi dan pertahanan Amerika Serikat. Saat ini, Tiongkok menguasai 70-80 persen pasokan logam langka dunia. Perseteruan kedua negara diperkirakan mereda setelah Trump dijadwalkan bertemu Presiden Tiongkok pada akhir Oktober dalam KTT ASEAN Summit di Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan, namun status tarif 100% akan tetap berlaku mulai 1 November sambil menunggu kepastian hasil diplomasi keduanya. Sementara itu, Sekretaris Treasury Amerika Serikat sempat mengusulkan penundaan pemberlakuan tarif untuk meredam gejolak di pasar.
Kondisi pasar yang tidak menentu terlihat dari lonjakan likuidasi terbesar sepanjang sejarah kripto, dengan nilai mencapai 19,31 miliar USD atau sekitar Rp320 triliun. Namun, Gabriel Rey menilai prospek jangka panjang Bitcoin tetap solid, khususnya karena pemerintahan Trump dikenal pro-kripto, sudah melegalisasi stablecoin, dan pihak otoritas Amerika tengah memproses pembelian 1 juta Bitcoin dalam lima tahun ke depan sebagai cadangan strategis. “Komposisi portofolio itu tidak boleh tidak ada bitcoin-nya. Minimum 70 sampai 80% itu Bitcoin supaya apa? Ketika terjadi sesuatu event seperti ini, portofolio kalian itu tidak terlalu diragdown ke bawah,” jelas Rey.
Fenomena buy the dip juga terjadi di Indonesia di mana volume perdagangan pada platform Trif melonjak hingga 300%, menunjukkan reaksi rasional investor lokal yang memanfaatkan harga rendah. Gabriel Rey merinci, strategi investasi terbaik tetap disiplin melakukan akumulasi bertahap, serta mengedepankan horizon investasi jangka panjang mengingat volatilitas seperti ini wajar terjadi.
Perseteruan dagang AS-Tiongkok dan volatilitas pasar kripto diyakini akan terus menjadi katalis penting hingga ada kepastian diplomatik lebih lanjut. Investor diimbau tetap memperhatikan perkembangan resmi dan menjaga diversifikasi aset serta strategi investasi yang bertanggung jawab ke depannya.
Sumber: Liputan6 SCTV, Gabriel Rey, Bloomberg Terminal.
(@PT)



















































Discussion about this post