Gambar: Ilustrasi tumpukan jerami padi yang diolah menjadi briket atau biopelet di fasilitas pengolahan biomassa. (Dok.: UtusanRakyat/AI)
Jakarta (Utusan Rakyat) – Upaya pengembangan energi alternatif berbasis biomassa mendapat perhatian serius setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan potensi jerami padi sebagai sumber bahan bakar terbarukan. Inisiatif ini muncul di tengah peningkatan kebutuhan energi nasional dan dorongan global untuk menekan emisi karbon.
Hasil pengolahan jerami padi menjadi briket atau biopelet menunjukkan nilai kalor yang memadai untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri skala kecil. Indonesia menghasilkan sekitar 48-55 juta ton jerami per tahun, menjadikannya sumber biomassa yang melimpah untuk substitusi sebagian bahan bakar fosil. Teknologi pemadatan dan pirolisis digunakan untuk meningkatkan efisiensi pembakaran dengan nilai kalor mencapai 3.000-5.000 kalori per gram, serta mengurangi emisi partikulat.
“Jerami merupakan biomassa yang melimpah dan selama ini kurang dimanfaatkan. Jika dikelola dengan benar, potensi energinya cukup besar untuk menopang kebutuhan daerah,” kata Hari Setyapraja, peneliti Bidang Sistem Penggerak Berkelanjutan dari Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar BRIN, seperti dilaporkan dalam keterangan resmi lembaga tersebut pada November 2025. Ia menambahkan bahwa BRIN fokus pada pendekatan non-pangan untuk memastikan pengembangan biofuel tidak mengganggu ketersediaan pangan nasional.
Pemanfaatan jerami sebagai bahan bakar bukan hal baru, namun pengembangannya terhambat oleh minimnya teknologi pascapanen, biaya produksi briket yang masih lebih tinggi dibanding kayu bakar, serta rantai pasok yang belum terstruktur. Sejumlah negara Asia telah lebih dulu mengadopsinya untuk pembangkit listrik biomassa. China mengoperasikan pembangkit di Distrik Nanqiao yang memproses 300.000 ton limbah pertanian per tahun, sementara India mewajibkan pencampuran (co-firing) biomassa 5-7% pada pembangkit listrik termal sejak 2021. Thailand dan Vietnam juga mengembangkan proyek serupa dengan kapasitas mencapai ribuan megawatt.
Saat ini berbagai daerah tengah melakukan uji coba produksi biopelet jerami melalui program kerja sama pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha. Balai Standardisasi Industri Pertanian (BSIP) telah menerima hibah lima unit alat pembuat biopelet untuk percontohan, sementara PLN EPI berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian dalam Program Sistem Pertanian Terpadu Tanaman Energi dengan target pasokan biomassa 3 juta ton pada 2025.
Dilema Energi: Co-firing sebagai Solusi Transisi
Namun, pemanfaatan jerami untuk co-firing pembangkit listrik menghadirkan dilema kebijakan. Meskipun teknologi ini mengurangi emisi karbon, co-firing sesungguhnya memperpanjang usia operasional pembangkit listrik tenaga batu bara hingga 2040-2050, bukan menggantinya sepenuhnya dengan energi terbarukan. Strategi ini mencerminkan kompromi antara target dekarbonisasi jangka panjang dengan kebutuhan keamanan energi jangka pendek, sebuah realitas yang dihadapi sebagian besar negara Asia dalam transisi energi mereka.
Model bisnis dan skema insentif untuk pemanfaatan jerami masih dalam tahap pembahasan antara Kementerian ESDM, PLN, dan Kementerian Pertanian, dengan standar kualitas mengacu pada SNI 8675-2018 untuk pelet biomassa.
(@PT)





















































Discussion about this post