Gambar: Sekretaris Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Hong Kong, Chris Sun Yuk-han (kanan), bersama Sekretaris Departemen Tenaga Kerja Migran Filipina, Hans Leo J. Cacdac (kiri), memberikan keterangan pers terkait penanganan korban kebakaran di Tai Po. Mereka mengumumkan paket kompensasi dan skema bantuan yang disederhanakan bagi keluarga pekerja migran yang terdampak.
Hongkong (Utusan Rakyat) – Sepuluh pekerja migran – 9 dari Indonesia dan 1 dari Filipina – yang meninggal dunia dalam kebakaran di Tai Po akan menerima kompensasi masing-masing sekitar HK$800.000. Informasi ini diumumkan oleh Sekretaris Tenaga Kerja dan Kesejahteraan, Chris Sun Yuk Han, pada Selasa (2/12).
Sun menjelaskan kepada wartawan bahwa saat kebakaran terjadi di Pengadilan Wang Fuk, terdapat 235 asisten rumah tangga asing yang bekerja di sana, terdiri dari 94 dari Filipina dan 141 dari Indonesia. Dari jumlah tersebut, 10 orang meninggal, 3 mengalami luka-luka, 30 masih dinyatakan hilang, dan 192 sudah dipastikan selamat.
Keluarga dari setiap pekerja rumah tangga yang meninggal akan menerima santunan total hampir HK$800.000, yang terdiri dari:
– Kompensasi wajib sekitar HK$500.000
– Tanda solidaritas satu kali sebesar HK$200.000
– Subsidi khusus sebesar HK$50.000
Asisten rumah tangga yang terluka akan mendapatkan santunan satu kali antara HK$50.000 hingga HK$100.000, tergantung lama perawatan rumah sakit. Para penyintas dan mereka yang dipastikan selamat juga menerima HK$20.000 masing-masing, sementara korban luka dan dengan kartu Octopus akan mendapatkan saldo tambahan sebesar HK$2.000.
Hans Leo J. Cacdac, Sekretaris Departemen Tenaga Kerja Migran Filipina, menyatakan bahwa Manila bekerjasama erat dengan pemerintah Hong Kong untuk mendukung pekerja migran dan keluarga yang terdampak. Konsulat Jenderal Filipina menyediakan akomodasi sementara, kebutuhan dasar bagi penyintas, serta membantu penerbitan ulang dokumen imigrasi dan identitas yang hilang.
Cacdac menambahkan bahwa seorang pekerja Filipina yang sempat kritis di unit perawatan intensif kini sudah stabil dan segera dipulangkan untuk berkumpul dengan keluarga. Bantuan keuangan juga sudah diberikan kepada keluarga korban meninggal.
Sementara itu, Sun mengakui kesulitan yang dialami oleh warga terdampak dalam mengajukan bantuan dari berbagai badan amal yang sering mensyaratkan kunjungan ke berbagai tempat dan pengisian formulir berulang. Sebagai solusi, pemerintah mengkoordinasikan sepuluh lembaga amal besar untuk menyederhanakan proses melalui skema “satu pekerja sosial per rumah tangga,” sehingga mengurangi beban administrasi bagi korban.
Dana bantuan akan disalurkan dengan cara yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing keluarga, sejalan dengan upaya pemerintah mendukung para penyintas kebakaran yang paling mematikan di kota ini dalam beberapa dekade terakhir.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia tengah menjadi sorotan akibat adanya oknum yang meminta dana sebesar 9 juta Rupiah untuk tes DNA kepada keluarga korban, serta biaya pemulangan jenazah yang dilaporkan mencapai 90 juta Rupiah per jenazah, padahal biaya sebenarnya adalah 50 juta Rupiah. Kami terus memantau agar dana yang diberikan pemerintah Hong Kong kepada keluarga korban tidak dipotong atau disalahgunakan oleh calo pemulangan jenazah.
(Tari)





















































Discussion about this post