Gambar: Suasana kebersamaan para pemangku kepentingan, termasuk pejabat pemerintah daerah dan jajarannya, dalam sebuah acara formal. Foto ini mengilustrasikan semangat sinergi dan kolaborasi yang diharapkan dapat terwujud dalam menangani berbagai isu publik, seperti kemacetan di Cileungsi.
Cileungsi (Utusan Rakyat) – Kepala Dinas DLLAJR, Drs. Bayu Ramawanto, menegaskan pentingnya prinsip tertib, disiplin, kenyamanan, dan keindahan dalam mengatasi kemacetan lalu lintas di wilayah Cileungsi dan sekitarnya. Ia berharap perbaikan mulai dari pertigaan Harvest, pertigaan Meatlan, pertigaan Rawabelut, hingga Prapatan Cileungsi, putaran balik tikungan Jambrong, dan pertigaan Cikeas dapat segera terwujud.
Kemacetan parah di titik-titik tersebut menurut Dadang disebabkan oleh ketidaktertiban yang dipicu oleh oknum-oknum tertentu. Untuk itu, sinergi antara pemerintah kecamatan, DLLAJR, Satpol PP, Satlantas Polsek, serta kepala desa yang bersangkutan sangat diperlukan. Pendekatan ini bukan sekadar teori, melainkan langsung diterapkan dengan praktek di lapangan.
Sebelumnya, Mahpudin memberikan kritik bahwa meskipun pengembang perumahan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, kontribusinya masih kurang signifikan dan tidak mampu mengimbangi dampak negatif terhadap lingkungan dan ekosistem sekitar. Dampak tersebut meliputi hilangnya area hijau yang selama ini menjadi sumber oksigen murni, serta meningkatnya jumlah kendaraan pribadi yang menyebabkan kemacetan parah di jalan utama.
Dadang juga menyoroti masalah tata ruang dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang pernah dilakukan saat pembangunan perumahan besar pada 2007-2010. Kala itu, pelebaran jalan tidak diimbangi dengan pertumbuhan kendaraan yang sangat pesat, sehingga kemacetan semakin menjadi-jadi hingga sekarang.
Saat ini, kondisi lalu lintas di jalur Transyogi, Jonggol, Metlan, Cileungsi, dan Cikeas masih mengalami kepadatan, terutama pada jam sibuk pagi dan sore. Oleh karena itu, kolaborasi aktif seluruh pihak menjadi kunci dalam mengurai kemacetan dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat.
“Kita doakan agar semua pemangku kepentingan mulai dari penguasa hingga pelaksana di lapangan dapat bersinergi secara kompak dan turun langsung memantau serta menangani masalah ini,” ujar Bayu Ramawanto dengan optimisme.
(Mahpudin)






















































Discussion about this post