Gambar: Ilustrasi hamparan sawah padi di pesisir dekat pantai dengan kanal irigasi air payau dan panel pengukur salinitas.
Qingdao, CHINA (Utusan Rakyat) – Para peneliti China melaporkan terobosan “beras air laut” yang mampu tumbuh di tanah salin-alkali dan telah mencatat hasil panen hingga lebih dari 10 ton per hektare dalam uji lapangan terbaru, membuka peluang peningkatan produksi beras secara signifikan pada akhir dekade ini. Program yang dibayangkan mendiang Yuan Longping dan kini digerakkan Pusat Penelitian Padi Toleran Salin-Alkali Qingdao dipandang dapat menambah puluhan juta ton gabah per tahun serta memperkuat ketahanan pangan di tengah penyusutan lahan subur dan perubahan iklim.
Uji multi-tahun di lahan pantai dekat Laut Kuning menunjukkan beberapa varietas “beras air laut” menghasilkan 6,5-9,3 ton per hektare, dengan pencapaian terbaru menembus 10.377 kg per hektare untuk varietas 22ZS-44 pada 2022, menandai lompatan produktivitas pada lingkungan salin. Para ahli China menilai budidaya padi toleran salinitas berpotensi mengerek produksi beras nasional hampir 20%, sekaligus menjadi bantalan terhadap gejolak pasokan global.
Latar belakang riset
Gagasan “beras air laut” dirintis Yuan Longping-dikenal sebagai “Bapak Padi Hibrida” yang pada 2016 mendirikan pusat riset khusus di Qingdao untuk pemuliaan padi toleran salin-alkali dengan dukungan pendanaan dan target pengembangan nasional. Pusat tersebut kini memimpin pengujian, pemuliaan, dan standardisasi budidaya padi toleran salinitas lintas provinsi di China.
Metode dan temuan kunci
Lebih dari 200 galur padi ditanam pada lahan uji di Qingdao dengan pengairan air asin/air payau yang dikontrol kadar garamnya, menunjukkan beberapa varietas mampu bertahan dan berproduksi tinggi pada kondisi salinitas meningkat. Catatan hasil panen kian membaik: laporan 2022 menegaskan hasil di atas 10 ton per hektare pada lahan dengan irigasi air asin terkendali, melampaui rekor tahun sebelumnya.
Skala lahan dan potensi
China memiliki sekitar 100 juta hektare (±1 juta km²) lahan salin-alkali, menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia, dengan tingkat ekspansi lahan bermasalah yang perlu dimitigasi. Estimasi resmi sebelumnya menyebut bila potensi ini dioptimalkan dapat menambah sekitar 50 juta ton gabah per tahun-cukup untuk konsumsi kurang lebih 200 juta orang-meski angka realisasi akan bergantung pada skala konversi lahan dan produktivitas aktual.
Proyeksi dampak produksi
Pemberdayaan lahan salin-alkali melalui varietas toleran garam dinilai bisa meningkatkan produksi beras China mendekati 20%, terutama bila area tanam meluas seiring perbaikan teknik budidaya dan irigasi. Rencana ekspansi historis juga menargetkan jutaan hektare dalam 8-10 tahun, yang secara bertahap dapat memberi tambahan pasokan pangan nasional signifikan.
Implementasi dan perluasan
Data resmi beberapa tahun terakhir menunjukkan “beras air laut” telah beralih dari skala laboratorium ke produksi lapang, dengan puluhan ribu hektare tertanam lintas lebih dari 10 provinsi hingga 2021-2022 dan terus dikembangkan menuju ekosistem budidaya yang lebih luas. Otoritas dan pusat riset menggarisbawahi integrasi bioteknologi, pengelolaan air asin/payau, serta perbaikan struktur tanah sebagai paket teknologi pendukung adopsi.
Catatan teknis budidaya
Uji di Qingdao menggunakan air laut yang dipompa dan dikondisikan/dilarutkan untuk menguji toleransi galur pada kisaran salinitas tanah dan air yang berbeda, bukan sekadar menyiram dengan air laut mentah tanpa kontrol, sehingga hasil panen merefleksikan manajemen salinitas yang presisi. Laporan panen terbaru juga menyebut penggunaan air asin berkonsentrasi tertentu pada lahan uji, menegaskan pentingnya pengendalian kadar garam agar pertumbuhan optimal.
Tantangan dan kehati-hatian
Para peneliti mengingatkan keberhasilan skala luas tetap menuntut paket agronomi lengkap-dari pemuliaan, manajemen air, hingga praktik lahan-serta penelitian lanjutan atas mekanisme toleransi salinitas untuk memastikan konsistensi hasil dan manfaat ekonomi. Angka luas tanam terkini 2025 masih beragam menurut sumber dan sedang diverifikasi, sehingga proyeksi kontribusi produksi harus dibaca sebagai target bertahap, bukan capaian akhir.
Konteks ketahanan pangan
Inovasi ini hadir saat pasokan pangan global menghadapi tekanan dari perubahan iklim, pembatasan ekspor, dan gangguan rantai pasok, sehingga diversifikasi sumber produksi di lahan marginal menjadi prioritas strategis. Dengan hasil panen mendekati varietas konvensional di lahan non-salin, “beras air laut” memberi opsi baru memperluas basis produksi tanpa membuka hutan atau mengandalkan lahan subur tambahan.
(@PT)





















































Discussion about this post