Gambar: Suasana pelatihan pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos di Lapas Perempuan Kelas IIB Sigli yang diikuti 40 orang Warga Binaan. Dalam foto terlihat narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pidie sedang memberikan materi di depan ruangan yang bertuliskan “Lapas Perempuan Sigli”, sementara para peserta mengenakan seragam biru duduk dengan antusias mengikuti pemaparan tentang teknik pengolahan sampah organik untuk mendukung program ketahanan pangan dan kemandirian Warga Binaan.
Sigli (Utusan Rakyat) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIB Sigli kembali menunjukkan komitmennya dalam pembinaan kemandirian Warga Binaan dengan menggelar pelatihan pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos. Kegiatan yang bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pidie diikuti oleh 40 orang Warga Binaan terpilih, Selasa (21/10).
Kepala Lapas (Kalapas) Perempuan Kelas IIB Sigli, Yuliana, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan respons terhadap potensi besar limbah organik Lapas yang selama ini belum terkelola maksimal.
“Kami melihat sampah sisa dapur dan sisa tanaman di lingkungan Lapas ini sebagai potensi, bukan masalah. Melalui pelatihan ini, Warga Binaan diajarkan teknik dasar dan praktis dalam mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos yang berkualitas. Ini adalah bekal keterampilan hijau yang sangat relevan dan dapat menjadi modal usaha mandiri setelah mereka bebas nanti,” ujar Yuliana.
Kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini menghadirkan narasumber ahli dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pidie. Para Warga Binaan mendapatkan materi mulai dari: pentingnya pemilahan sampah, proses pembuatan pupuk kompos padat dan cair (POC) dengan metode sederhana, dan enggunaan mikroorganisme lokal (seperti EM4) untuk mempercepat penguraian.
Seluruh peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi, aktif berinteraksi, dan bersemangat saat sesi praktik. Pupuk kompos yang dihasilkan dari pelatihan ini rencananya akan digunakan untuk menyuburkan lahan pertanian/perkebunan di dalam Lapas.
Salah satu peserta pelatihan, mengungkapkan kegembiraannya. “Kami merasa sangat terbantu dengan ilmu ini. Selama ini, sisa makanan hanya dibuang. Sekarang kami tahu cara mengubahnya menjadi pupuk untuk kebun Lapas. Rasanya senang bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” tuturnya.
Hasil pupuk kompos yang diproduksi oleh Warga Binaan akan dimanfaatkan untuk mendukung program ketahanan pangan Lapas, yaitu menyuburkan kebun sayur yang dikelola secara mandiri.
(Ali)





















































Discussion about this post