Gambar: Pengamat ekonomi, Peri Akri Domo, saat memberikan pandangannya mengenai kondisi perekonomian Indonesia dalam sebuah diskusi. Ia menyoroti paradoks antara pertumbuhan ekonomi makro dan realitas di tingkat mikro masyarakat.
PEKANBARU (Utusan Rakyat) – Pengamat ekonomi, Peri Akri Domo, menyoroti kondisi perekonomian Indonesia yang dinilai masih menghadapi paradoks antara pertumbuhan makro dan realitas mikro di tingkat masyarakat. Menurutnya, pilar fokus ekonomi nasional hingga kini belum berjalan secara efektif.
Dalam catatannya, Peri Akri Domo menyampaikan bahwa pertumbuhan makroekonomi Indonesia tidak sejalan dengan kehidupan mikroekonomi masyarakat sehari-hari. “Sekitar 60 persen masyarakat masih tergolong kelompok miskin menurut pengamatan asing. Padahal, struktur perekonomian kita hampir 80 persen didominasi oleh sektor UMKM,” ungkapnya.
Kondisi ini, menurutnya, menyebabkan terjadinya paradoks: secara makroekonomi terlihat tumbuh, tetapi di tingkat mikro justru kesenjangan dan kemiskinan berpotensi memburuk. Ia menilai tata kelola ekonomi Indonesia masih terindikasi sebatas administrasi, birokrasi, dan pencitraan.
Meski begitu, Peri Akri Domo berharap hipotesis ini keliru. “Kami ingin kebijakan ekonomi Indonesia tidak hanya sebatas fokus pada tatanan makro saja. Yang dibutuhkan adalah optimalisasi, bukan sekadar efisiensi,” tegasnya.
Melalui pernyataan ini, ia mengajak seluruh pemangku kebijakan untuk memperkuat kedalaman dan keluasan strategi ekonomi agar benar-benar menyentuh lapisan masyarakat terbawah, khususnya pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
(HMTS)





















































Discussion about this post