Gambar: Visualisasi masa depan profesi keuangan, ilustrasi ini menggambarkan akuntan dan auditor pada tahun 2026 yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan analitik data canggih untuk pengambilan keputusan strategis. Berlatar belakang cakrawala Jakarta dan logo firma ‘Big Four’ (KPMG, PwC, Deloitte, EY), gambar ini mencerminkan transformasi industri di mana kolaborasi manusia dan teknologi menjadi kunci lonjakan karier di sektor ini. (Dok. UtusanRakyat/AI)
Jakarta (Utusan Rakyat) – Profesi akuntansi dan audit yang mengoptimalkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) diprediksi menjadi salah satu bidang karier paling menjanjikan pada tahun 2026. Transformasi digital ini bukan berarti penggantian tenaga manusia, melainkan evolusi peran akuntan menjadi lebih strategis dan analitis dalam pengambilan keputusan bisnis.
Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia, Ardan Adiperdana, menegaskan bahwa AI dan data analitik telah membawa perubahan signifikan dalam profesi akuntansi. Menurutnya, akuntansi perlu menjadi profesi yang dinamis dan harus tetap menjadi pilihan karier di masa depan. Pernyataan ini sejalan dengan Rencana Strategis IAI 2022-2026 yang berfokus pada transformasi profesi melalui peningkatan kuantitas dan kualitas akuntan yang kompeten.
Eddie Khodzali, pembicara dalam forum Future-Ready Finance Leaders yang diselenggarakan IAI pada Juli 2025, memberikan perspektif menarik tentang kolaborasi manusia dan teknologi. “AI mungkin tidak akan menggantikan manajer. Tapi manajer yang mampu menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak,” tegasnya. Khodzali menambahkan bahwa masa depan profesi akuntan bukan soal digantikan oleh mesin, melainkan bertransformasi menjadi lebih strategis dengan peran sebagai analis, penasihat, dan pengambil keputusan keuangan.
Kebutuhan akuntan profesional di Indonesia mencapai angka fantastis. Data dari Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (2019-2020) menunjukkan Indonesia membutuhkan hingga 452.000 akuntan profesional, sementara yang tersedia saat ini baru sekitar 53.000 orang. Kesenjangan ini menciptakan peluang besar bagi generasi muda yang menguasai teknologi digital.
Transformasi ini juga terlihat dari adopsi teknologi di firma-firma audit besar. Keempat firma akuntansi terbesar dunia yang dikenal sebagai Big Four: KPMG, PwC, Deloitte, dan EY berlomba mengintegrasikan AI dalam layanan mereka. KPMG misalnya, menjalin kemitraan strategis dengan Salesforce dan Google Cloud untuk mengembangkan agentic AI, sistem kecerdasan buatan yang mampu mengambil keputusan secara mandiri. Robot keuangan yang dikembangkan Big Four kini dapat secara otomatis mengenali data, memproses pembayaran, dan menghasilkan laporan keuangan.
Conny Siahaan, Head of Indonesia dari The Institute of Chartered Accountants in England and Wales, menyatakan bahwa kebijakan baru pemerintah melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan memberikan kesempatan unik bagi akuntan profesional Indonesia untuk memajukan karier mereka di bidang akuntansi, bisnis, dan keuangan.
Tren perekrutan di sektor akuntansi juga mengalami pergeseran. Perusahaan kini lebih memilih kandidat yang memiliki kemampuan analisis data dan pemahaman teknologi. Keterampilan yang paling dicari meliputi penguasaan MS-Office, software akuntansi, literasi teknologi informasi, database, sistem ERP berbasis cloud, serta pemahaman AI dan machine learning.
Dari sisi kompensasi, profesi akuntan tetap menawarkan penghasilan kompetitif. Untuk lulusan baru, gaji berkisar antara Rp5 juta hingga Rp7 juta per bulan, sementara di firma Big Four dapat mencapai Rp7 juta hingga Rp12 juta per bulan. Akuntan senior dengan pengalaman empat hingga tujuh tahun dapat memperoleh Rp9 juta hingga Rp20 juta per bulan.
Niken, narasumber dalam diskusi yang diselenggarakan Dewan Pers pada September 2025, mengidentifikasi lima manfaat besar penerapan AI dalam laporan keuangan: otomatisasi pencatatan transaksi, peningkatan akurasi hingga 99 persen, analisis cerdas untuk deteksi anomali, penyusunan laporan secara real-time, dan visualisasi data yang lebih ringkas. Menurutnya, integrasi AI ke dalam proses keuangan adalah langkah strategis yang tidak bisa ditunda lagi.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mencapai 5,3 persen pada 2026, naik dari 5,1 persen pada 2025, turut mendorong kebutuhan akan profesional akuntansi yang kompeten. Kontribusi sektor ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia diperkirakan meningkat hingga 25 persen pada tahun 2025.
Untuk mempersiapkan akuntan masa depan, IAI melalui Kompartemen Akuntan Pendidik menyelenggarakan Focus Group Discussion bertajuk “Future Ready Professional Accountants” pada Juni 2025. Forum ini menekankan perlunya penyelarasan kurikulum pendidikan tinggi dengan perkembangan terbaru yang mencakup integrasi teknologi digital dan pelaporan keberlanjutan.
Meski teknologi AI membawa berbagai kemudahan, tantangan tetap ada. Profesor Zaenal dari Universitas Airlangga dalam diskusi Oktober 2025 menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat, sementara nilai moral tetap menjadi fondasi. Profesi akuntan harus mampu menjaga keseimbangan antara penguasaan teknologi dan integritas profesional.
Editor: Patrik Tatang



















































Discussion about this post