Gambar: Pedagang memantau layar kurs valuta asing.
Jakarta (Utusan Rakyat) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat tajam 123 poin menjadi Rp16.309,5 per USD pada Senin (8/9/2025), dipicu perlambatan pertumbuhan lapangan kerja di AS dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak cenderung melemah pada awal pekan ini karena tekanan arus modal keluar dan sentimen data ekonomi global.
Sentimen eksternal datang dari laporan ketenagakerjaan AS yang menunjukkan kenaikan angka pengangguran ke 4,3% dan perlambatan pembuatan lapangan kerja, “memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September mendatang,” kata Ibrahim Assuaibi, analis mata uang, seperti dikutip dari Ipotnews. Di sisi global, perlambatan ekspor dan impor Tiongkok serta ketegangan geopolitik turut menekan sentimen pasar.
Di dalam negeri, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memperingatkan bahwa IHSG berpotensi terkoreksi karena arus modal asing keluar mencapai Rp1,1 triliun pada 29 Agustus, mendorong kecemasan investor asing terhadap stabilitas politik dan ekonomi Indonesia. Rentang support IHSG diperkirakan berada di level 7.745 hingga 7.920.
Analis pasar modal merekomendasikan beberapa saham untuk antisipasi volatilitas. ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) disarankan untuk diakumulasi pada kisaran harga Rp660-695 per saham, sedangkan untuk PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) strategi “buy on weakness” pada level Rp4.320-4.400 dengan target harga Rp4.510 dan Rp4.640 serta stoploss di bawah Rp4.240.
Pada latar belakang sejarah, penguatan rupiah kali ini merupakan kelanjutan dari pola sentiment dovish The Fed yang mulai muncul sejak pertengahan tahun, setelah data ekonomi AS berulang kali menunjukkan tanda pelemahan. Sejumlah analis menilai bahwa jika proses desinflasi konsumen di AS berlanjut, peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan 16-17 September akan semakin kuat, yang berpotensi memperkuat rupiah kembali.
Kondisi terkini menunjukkan cadangan devisa Indonesia masih memadai untuk menopang stabilitas nilai tukar, sementara pelaku pasar akan memantau data Indeks Harga Konsumen AS dan pertemuan The Fed pekan depan. Tekanan arus modal keluar diperkirakan masih akan berlanjut sebelum memudar jika ekspektasi penurunan suku bunga benar-benar terkonfirmasi. (@PT)




















































Discussion about this post