Gambar: Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, terkait perkembangan uji coba produksi bahan bakar nabati berbasis jerami “Bobibos” di kawasan Lembur Pakuan, Subang. Dedi menyoroti pentingnya pembuktian ilmiah dan realisasi produksi massal dari inovasi tersebut agar dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. (Dok. youtube/@KANGDEDIMULYADICHANNEL)
SUBANG (Utusan Rakyat) – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mempertanyakan realisasi produksi bahan bakar nabati berbasis jerami, “Bobibos”, setelah tenggat waktu uji coba dua minggu di kediamannya, Lembur Pakuan, berakhir tanpa hasil yang signifikan. Publik kini menanti pembuktian klaim inovasi yang digadang-gadang mampu mengubah limbah pertanian menjadi bahan bakar setara oktan tinggi tersebut.
Sebelumnya, Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pihak Bobibos pada pertengahan November 2025. Dalam kesepakatan tersebut, pengembang Bobibos, M. Ikhlas Thamrin, dijadwalkan mendirikan unit produksi di Lembur Pakuan untuk membuktikan bahwa jerami padi dapat diolah secara langsung menjadi bahan bakar minyak (BBM). KDM bahkan menantang agar produksi tersebut dapat direalisasikan dalam waktu dua minggu untuk membungkam keraguan publik. Namun, hingga awal Desember, tanda-tanda produksi massal belum terlihat, memicu spekulasi bahwa proyek ini menghadapi kendala teknis serius.
Keraguan mengenai kelayakan teknis Bobibos juga disuarakan oleh kalangan ahli otomotif. Ko Lung Lung dari Dokter Mobil Indonesia, dalam analisisnya, menyebutkan bahwa metode yang kemungkinan besar digunakan adalah pirolisis, proses pemanasan materi organik tanpa oksigen. Meski secara teori mungkin dilakukan, ia memperingatkan risiko penggunaan bahan bakar ini pada kendaraan modern. “Biofuel seperti ini memiliki sifat yang lebih keras dibanding minyak bumi. Perlu diuji dampaknya terhadap komponen karet dan segel (seal) mesin agar tidak getas atau rusak dalam jangka panjang,” ujarnya.
Polemik ini mengingatkan publik pada deretan klaim penemuan energi alternatif sebelumnya, seperti Blue Energy dan Nikuba, yang berakhir tanpa kejelasan ilmiah dan komersial. Pihak Bobibos sendiri mengklaim produk mereka memiliki Research Octane Number (RON) 98, setara dengan bahan bakar kualitas turbo, namun dengan harga yang jauh lebih ekonomis. Klaim fantastis ini yang membuat KDM bersikeras meminta pembuktian langsung di lapangan alih-alih hanya sekadar paparan teori.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai kapan mesin produksi utama akan beroperasi penuh di Lembur Pakuan. Jika gagal terbukti, Bobibos berpotensi menambah daftar panjang inovasi “karya anak bangsa” yang layu sebelum berkembang. Sebaliknya, jika berhasil, ini akan menjadi terobosan besar bagi kemandirian energi nasional sekaligus solusi bagi limbah pertanian di Jawa Barat.
Editor: Patrik Tatang





















































Discussion about this post