Gambar: Ilustrasi prosedur CT scan dengan ikon keselamatan radiasi.
Pekanbaru (Utusan Rakyat) – Sebuah penelitian terbitan JAMA Internal Medicine memperingatkan bahwa praktik pemindaian CT (Computed Tomography) saat ini di Amerika Serikat dapat berdampak signifikan terhadap beban kanker nasional. Berdasarkan analisis data Registry Dosis CT Internasional Universitas California San Francisco dan survei penggunaan CT nasional, peneliti memproyeksikan bahwa dari 93 juta pemindaian CT pada 2023, akan muncul sekitar 103.000 kasus kanker yang diinduksi radiasi sepanjang masa hidup pasien. Jumlah ini setara dengan 5 persen dari keseluruhan diagnosis kanker baru setiap tahunnya di negara tersebut.
Angka proyeksi tersebut mencakup beberapa jenis kanker yang paling sering dikaitkan dengan paparan radiasi CT:
Kanker paru-paru: 22.400 kasus
Kanker kolorektal: 8.700 kasus
Leukemia: 7.900 kasus
Kanker kandung kemih: 7.100 kasus
Kanker payudara pada perempuan: 5.700 kasus
Anak-anak Hadapi Risiko Lebih Tinggi
Meskipun hanya 4,2 persen dari pasien CT adalah anak-anak, sel-sel mereka yang terus berkembang lebih sensitif terhadap radiasi. Studi observasional menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima empat atau lebih pemindaian CT sebelum usia 18 tahun memiliki peningkatan risiko 2,3 kali lipat untuk mengembangkan kanker intrakranial, leukemia, atau limfoma non-Hodgkin dibandingkan anak-anak yang tidak menjalani pemindaian CT.
Kelompok Genetik Rentan
Pasien dengan sindrom Lynch-gangguan genetik yang umum terjadi sekitar 1 dari 279 orang-mengalami gangguan pada mekanisme perbaikan DNA. Paparan radiasi CT pada kelompok ini berpotensi menambah risiko kumulatif mereka terhadap kanker kolorektal dan jenis kanker lain yang telah dikenal terkait sindrom tersebut.
Mekanisme Kerusakan DNA
Radiasi pengion yang digunakan dalam CT dapat merusak DNA secara langsung atau melalui pembentukan radikal bebas yang menyerang materi genetik. Kerusakan double-strand breaks paling kritis dan korelasinya dengan dosis radiasi sudah banyak didokumentasikan dalam studi biologi radiasi.
Alternatif Pencitraan dan Strategi Pengurangan Dosis dan Resiko
Para ahli menekankan penggunaan modalitas tanpa radiasi-seperti MRI dan ultrasound-setiap kali memungkinkan. MRI unggul untuk jaringan lunak, sedangkan ultrasound menawarkan visualisasi real-time yang aman. Untuk mengurangi paparan radiasi CT, prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable) diimplementasikan melalui teknik modulasi arus tabung yang terbukti menurunkan dosis hingga 26-50 persen tanpa mengorbankan kualitas gambar diagnostik.
Temuan ini menjadi momentum penting untuk reformasi dalam praktik pencitraan medis. Industri kesehatan perlu mengembangkan teknologi CT generasi baru yang lebih aman, meningkatkan protokol keselamatan, dan memperkuat justifikasi klinis untuk setiap prosedur.
Bagi masyarakat, kesadaran akan risiko ini seharusnya mendorong diskusi yang lebih terbuka dengan dokter tentang alternatif pencitraan dan kebutuhan medis yang sebenarnya sebelum menjalani pemindaian CT. (@PT)






















































Discussion about this post