Gambar: Kondisi interior salah satu ruang kelas di SMAN 2 Gunungputri yang porak-poranda akibat atap yang roboh. Terlihat rangka atap baja ringan yang bengkok dan patah menjuntai ke bawah bersama dengan reruntuhan genteng tanah liat yang berserakan menutupi lantai. Struktur tembok berwarna ungu tampak masih berdiri, namun puing-puing material atap memenuhi ruangan, menggambarkan besarnya dampak kerusakan yang terjadi.
Gunungputri, Bogor (Utusan Rakyat) – Baru empat bulan setelah Gubernur Jawa Barat bertekad memperbaiki infrastruktur sekolah rusak pasca-kunjungan September 2024, musibah serupa kembali terjadi. Atap tiga ruang kelas SMAN 2 Gunungputri roboh pada Jumat (23/1/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Lokasi kejadian berada di samping perumahan elit Kotawisata, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor.
Kejadian ini menyentil kinerja Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jawa Barat, termasuk proses lelang di LPSE yang melibatkan kontraktor mewakili dinas provinsi. Udin Saputra, Kepala Desa Ciangsana sekaligus Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Indonesia (Apdesi) Kecamatan Gunungputri, menyatakan prihatin atas musibah ini yang menimpa wilayahnya.
Menurut Udin, yang mewakili suara 453.696 jiwa masyarakat Kecamatan Gunungputri, Gubernur Dedi Mulyadi diminta serius menangani masalah ini. “Libatkan dinas terkait dan LPSE untuk memverifikasi kualifikasi kontraktor serta konsultan yang punya moral dan integritas tinggi. Sertakan kajian analisis dampak lingkungan serta kekuatan tanah setempat dalam rancang bangun gedung sekolah negeri,” tegasnya.
Udin menekankan, Permendiknas Tahun 2021 sudah mengamanatkan partisipasi masyarakat dalam memajukan pendidikan dan infrastrukturnya, khususnya di Kabupaten Bogor dan umumnya Jawa Barat. “Bukan soal bagi-bagi ‘kue’ kontraktor, tapi olah agar maksimal dengan melibatkan semua stakeholder kompeten di Kecamatan Gunungputri,” tambahnya.
Ia juga menyoroti visi Indonesia Emas Presiden RI: agar siswa belajar aman dan nyaman dengan gedung bersertifikat rancang bangun minimal 20 tahun. “Kami siap bersama stakeholder masyarakat dan sekolah saling mengingatkan jadwal renovasi,” ujarnya.
Meski tak ada korban jiwa, Udin mendesak evaluasi garansi kekuatan gedung SMAN 2 Gunungputri yang dibangun sekitar 2010. “Apakah masih layak permanen atau perlu renovasi ulang?” tanyanya. Dalam wawancara dengan media online Utusan Rakyat, sosok dermawan dan murah senyum ini mengajak sekitar 10 awak media ngopi di UMKM warga sekitar, sekaligus memajukan ekonomi desa.
Saat menunggu kunjungan Bupati Bogor Rudi Susmanto yang dikonfirmasi pukul 15.00 WIB, kepala desa beserta stakeholder dan media santai menanti sambil menyampaikan keprihatinan atas ambruknya tiga ruang kelas SMAN 2 Gunungputri.
/Mahpudin





















































Discussion about this post