Gambar: Gedung Pondok Pesantren (Ponpes) Bait Qurani yang berlokasi di Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pesantren ini dipimpin oleh KH Mahsun Salim, MA (akrab disapa Abuya), yang memegang prinsip kejujuran dan amanah dalam mengelola institusi tersebut.
Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Utusan Rakyat) – Dari hanya 10 orang santri dan siswa, kini sekitar 850 santri mondok dan bersekolah di Pondok Pesantren Bait Qurani Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Kunci utama yang dipegang oleh pimpinan pesantren, KH Mahsun Salim, MA, yang akrab disapa “Abuya”, adalah kejujuran dan amanat (kejujuran hati dan amanah) dalam menjalankan amanah mengelola pesantren dan sekolah.
Di bawah terik sore yang cerah, Sabtu 24 April 2026, di tengah perkampungan padat yang berhimpitan dengan Kota Bekasi dan kerap tergenang banjir, Kompas Utusan Rakyat mengunjungi langsung Abuya Mahsun Salim di Ponpes Bait Qurani. Kampung ini berada di wilayah Bogor Timur, yang dihuni sekitar 1,4 juta jiwa dan tengah memperjuangkan status sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Bogor Timur (Botim), dengan pasar administrasi yang kini sudah berada di meja Presiden RI, Jenderal Prabowo Subianto, sejak 2021.
Keteguhan para ulama dan masyarakat Bogor Timur untuk terus berdoa agar Allah swt mengetuk hati Presiden agar DOB Botim segera diresmikan menjadi bagian penting dari spirit kebangsaan yang dipegang Abuya dalam membangun pesantren.
Motivasi Bersejarah: Mengisi Kemerdekaan dengan Amal Kebaikan
Ketika diwawancarai wartawan Utusan Rakyat, Abuya Mahsun Salim mengatakan bahwa pendirian Pondok Pesantren Bait Qurani dan jenjang pendidikan formal (TPA/TK, SDIT, SMPIT, hingga SMK) berawal dari refleksi sejarah kemerdekaan Indonesia.
“Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, itu adalah pertolongan Allah swt, berkat ulama, tokoh bangsa, santri, dan rakyat yang bersatu, ikhlas, dan amanah. Bukan hanya cucian bambu runcing, senapan, dan pedang, tapi juga kesatuan hati dan amanah. Jika dulu ada khianat dan kepentingan pribadi, mungkin kita tidak merdeka,” kata Abuya dengan lesat senyum khasnya.
Dari pengalaman itulah, setelah selesai menyelesaikan studi pesantren dan kuliah S2, ia bersama istri dan keluarga besar memutuskan untuk mengabdikan diri bagi bangsa, negara, dan agama melalui pendirian pesantren dan pendidikan formal. “Sejak zaman Nabi Adam hingga kini, ketaatan kepada Allah swt dan ilmu pengetahuan, termasuk teknologi, adalah kunci mengisi kemerdekaan. Kita harus menyiapkan generasi yang berkualitas, kuat mental, jujur, dan amanah,” paparnya.
Secara regulatif, pendirian dan penyelenggaraan pesantren di Indonesia diatur oleh UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, yang mengakui pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Visi misi pondok pesantren wajib berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan nilai Islam rahmatan lil alamin, serta terdaftar di Kementerian Agama sebagai Organisasi Pesantren (Ijop).
Dari “Tempat Jin Buang Anak” Menjadi Sentra Pendidikan Umat
Di awal pendiriannya, Bojong Kulur kerap disebut warga sebagai “tempat jin buang anak”, karena kesulitan mengajak masyarakat untuk mondok dan bersekolah. “Waktu itu, warga di sini ada sekitar 10.000 orang, belum lagi perbatasan dengan Kota Bekasi. Santri dan siswa kita hanya 10 orang. Kami sempat hampir menyerah,” tutur Abuya.
Titik balik datang ketika Abuya mengenang bacaan Al-Qur’an zaman sekolah dasar, Surah Al-‘Ashr: Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” Refleksi surah ini mendorongnya untuk memperbaiki cara sosialisasi dan pelayanan.
Sejak itu, Abuya mulai membuka akses bagi anak yatim dan keluarga kurang mampu dengan surat keterangan dari pemerintah desa, biaya mondok dan sekolah dibebaskan hingga lulus. Sementara bagi keluarga mampu, ia mengajak kesadaran untuk membantu lewat pola gotong royong dan subsidi silang. “Kita tidak pilih kasih, yang mampu membantu, yang tak mampu kami bebaskan,” ujarnya.
Berkat solidaritas umat, pemerintah, dan yayasan, Ponpes Bait Qurani terus berkembang. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan dana lainnya membantu pembangunan fasilitas. Saat yayasan mampu mengelola keuangan dengan baik, santri dan siswa berprestasi di berbagai ajang, seperti lomba olimpiade antar sekolah se-Indonesia (peringkat kedua) dan lomba MTQ tingkat Kabupaten Bogor (juara), semua ini, menurut Abuya, tak lepas dari kejujuran dan amanah seluruh komponen.
Harapan Abuya pada Pemerintah: Umaro dan Ulama Kompak
Ketika ditanya wartawan Utusan Rakyat tentang harapan kepada pemerintah, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, Abuya menggaruk kepala dan tersenyum kecil.
“Kami punya tetangga sebelah yang sudah menjadi anggota Dewan selama tiga periode, pernah juga menjabat bupati/wakil bupati. Beliau sering ke rumah, masjid, dan lingkungan lainnya, tapi sampai sekarang belum pernah menginjak pondok pesantren dan sekolah kami. Saya berharap, dengan kedatangan Utusan Rakyat ini, pemerintah bisa punya data base ponpes dan sekolah mana saja yang perlu giliran kunjungan kerja. Ini bentuk kekompakan umaro dan ulama,” kata Abuya.
Ia juga menambahkan, ulama di Bogor Timur sangat rindu akan kehadiran umaro (pemerintah) yang lebih dekat dengan pesantren. “Jika kita kompak, insyaallah Allah swt akan memudahkan segala urusan,” ucapnya.
Harapan untuk Tahun Ajaran Baru 2026/2027
Menjelang tahun ajaran baru 2026/2027, Abuya Mahsun Salim berharap lebih banyak masyarakat Indonesia, khususnya warga Kabupaten Bogor, menitipkan putra-putrinya untuk mondok di Pondok Pesantren Bait Qurani, Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
“Ini wilayah perkampungan dengan suasana kota, berdekatan dengan kawasan Kota Wisata. Pesantren kami menawarkan pendidikan yang murah, terjangkau, religius, dan berdaya saing di era modern,” kata Abuya.
Proses pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui:
- Website
atau dengan datang langsung ke lokasi. “Kami berusaha maksimal, jujur, dan amanah. Semoga melahirkan alumni yang sukses sebagai manajer, wirausaha, dan birokrat yang beriman dan berintegritas,” ujar Abuya menutup komitmennya.
/Laporan: Biro Bogor – Parman dan Kaperwil Jawa Barat – Mahpudin





















































Discussion about this post