Gambar: Kondisi arus lalu lintas di Jalan Hang Tuah, Pekanbaru, pasca-hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Visual ini menunjukkan antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat yang terjepit di antara jalanan sempit dan genangan air yang menyisa.
Pekanbaru (Utusan Rakyat) – Hujan deras yang mengguyur Kota Pekanbaru pagi tadi langsung memicu kemacetan panjang di Jalan Hang Tuah. Pantauan langsung di lapangan menunjukkan antrean kendaraan bermotor membentang hingga ratusan meter, memaksa warga terjebak berjam-jam di tengah hiruk-pikuk lalu lintas.
Kondisi ini bukanlah kejadian baru, melainkan rutinitas yang kerap berulang setiap musim hujan. Pengendara roda dua dan empat mengeluhkan genangan air yang masih menyisa di permukaan jalan, ditambah lubang-lubang menganga yang sulit dihindari. Akibatnya, laju kendaraan menjadi lamban, bahkan terhenti total di beberapa titik rawan.
Penyebab utama kemacetan ini adalah kerusakan infrastruktur jalan yang parah. Jalan Hang Tuah yang sempit sejak lama didera lubang-lubang besar, akibat erosi tanah pasca-banjir. Banjir dari Aliran Sungai Siak yang meluap saat hujan deras menjadi pemicu utama, merusak aspal secara bertahap hingga lubang kecil membesar tanpa perawatan memadai.
Pengendara juga turut berkontribusi pada kemacetan ini. Banyak di antara mereka yang kehilangan kesabaran, saling berebut ruang sempit di pertigaan, dan enggan memberi jalan satu sama lain. Perilaku ini memperburuk situasi, terutama saat volume kendaraan meningkat menjelang siang hari.
Masyarakat setempat, pelaku usaha di sekitar Jalan Hang Tuah, serta pengendara rutin menyuarakan keluhan serupa. “Setiap hujan, jalan ini seperti jebakan tikus. Usaha saya rugi karena pelanggan ogah lewat sini,” ujar salah seorang pedagang warung makan yang enggan disebut namanya. Keluhan ini telah berulang sejak tahun lalu, namun solusi konkret masih belum terlihat.
Pemerintah daerah, melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Pekanbaru, hanya mampu melakukan tambal sulam darurat. Lubang-lubang ditutup sementara dengan aspal dingin atau campuran ban bekas seperti tambalan ban motor, yang mudah copot kembali saat hujan turun. Hingga kini, tidak ada rencana perbaikan permanen seperti pelebaran jalan atau normalisasi Sungai Siak.
Warga mendesak Pemko Pekanbaru untuk segera bertindak tegas. Diperlukan anggaran khusus untuk proyek perbaikan infrastruktur, termasuk drainase yang memadai agar banjir tidak lagi merusak jalan. Tanpa intervensi cepat, kemacetan pasca-hujan di Jalan Hang Tuah berpotensi menjadi masalah kronis yang menghambat mobilitas warga Pekanbaru.
/Zakius



















































Discussion about this post