Gambar: Suasana teduh dan khidmat di dalam sebuah ruangan, di mana seorang guru wanita (ustazah) yang mengenakan mukena putih sedang membimbing dua orang anak perempuan dalam belajar membaca Al-Qur’an. Kedua anak tersebut tampak tekun menyimak pelajaran sambil mengenakan pakaian ibadah. Suasana ini mencerminkan dedikasi pendidikan agama di TPA Aisyiyah Mekarsari, yang terus menjalankan amanat pendidikan Al-Qur’an bagi generasi muda di lingkungan Desa Mekarsari, Cileungsi, meskipun dalam kesederhanaan.
Cileungsi, Bogor (Utusan Rakyat) – TK Aisyiyah dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Aisyiyah di Desa Mekarsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terus menjalankan amanat Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) melalui pendidikan anak usia dini yang berbasis Al-Qur’an, kesabaran, dan pemberdayaan perempuan.
Di sore hari yang cerah, para ibu rumah tangga di wilayah Desa Mekarsari, Jalan Hj. Oyah Cigarogol RT 08 RW 03, sering berkumpul membahas masa depan anak-anak mereka, termasuk pemilihan sekolah dan tempat mengaji. Keunikan masyarakat setempat, di mana hampir 70 persen penduduk berlatar belakang kauman, tercermin dari 18 perkampungan dan 10 RT perkotaan yang aktif mendiskusikan pendidikan anak sambil menyiapkan kebutuhan rumah tangga.
Ketua Organisasi Otonom Aisyiyah Desa Mekarsari sekaligus Kepala AUM TK Aisyiyah/TPA, Sri Mulyati, aktif menyapa para ibu melalui jalan sore. Ia mengajak mereka menjadi istri salehah yang mendukung suami sekaligus mendidik anak dengan mengajarkan Al-Qur’an. Bagi ibu pekerja, TPA Aisyiyah Mekarsari menjadi tempat penitipan anak pada sore hari (jam 17.00–19.30 WIB), di mana anak-anak diajarkan membaca Al-Qur’an, tata cara shalat sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW, serta toleransi beragama.
Tim investigasi Biro Bogor Parman dan Kaperwil Jabar Mahpudin, yang mendengar kabar bumih dari masyarakat tentang dedikasi Sri Mulyati, langsung mewawancarainya. “Kenapa sabar mengajar Al-Qur’an meski jumlah anak fluktuatif, hari ini 15 anak, besok 10, atau bahkan 5?” tanya tim. Sri Mulyati menjawab, “Beramal ikhlas karena Allah SWT. Jangan shalat membaca Al-Fatihah tapi prakteknya khianat, menjual ayat Al-Qur’an demi kekayaan. Guru yang baik serahkan rezeki pada Allah SWT, karena badan, ruh, dan ilmu ini pinjaman-Nya.”
Sri Mulyati mengaitkan dedikasinya dengan amanat Nyai Ahmad Dahlan, pendiri Aisyiyah pada 1917. Inti pemikiran Nyai Dahlan mencakup:
- Pendidikan perempuan agar pandai dan mendidik anak sebagai generasi penerus.
- Perempuan sebagai pejuang sosial, bukan hanya ibu rumah tangga.
- Kemandirian melalui kesabaran, gotong royong, dan keteguhan ibadah.
- Spirit amar ma’ruf nahi mungkar tanpa memandang gender.
- Wasiat terakhir: Hidupkan Aisyiyah dengan sungguh-sungguh.
Harapan Sri Mulyati agar Allah SWT jaga amanat persyarikatan ini, serta ibu-ibu di Desa Mekarsari, Cipenjo, Gandoang, Cileungsi Kidul, dan sekitarnya menitipkan anak usia 5–6 tahun pada 2026/2027 ke TK Aisyiyah dan TPA Aisyiyah Mekarsari (telp: 0857-7478-9670, alamat: Gang Hj. Oyah Cigarogol RT 08 RW 03).
Ia juga berharap Pemerintah Desa Mekarsari mendukung Aisyiyah—warisan Nyai Ahmad Dahlan sejak 1912—agar eksis nasional, termasuk melalui bantuan tidak langsung untuk pendidikan dan kajian Al-Qur’an. Sekretaris Persyarikatan PRM Mekarsari, Sopiyan (Ketua RW), menambahkan harapan adanya donatur untuk membangun gedung 4 lantai sebagai rumah yatim dan tahfidz.
/Mahpudin



















































Discussion about this post