Gambar: BANGUN KEKOMPAKAN – Direktur, advokat, dan mahasiswa magang dari Kantor Hukum Andre Macan & Partners (AMP) Law Firm berfoto bersama serta menyerahkan hadiah Usai menggelar kegiatan “Lomba Merdeka Bersama” memperingati HUT ke-81 RI di halaman kantor AMP Law Firm, Palembang, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan ini digelar untuk mempererat kebersamaan dan membangun karakter serta kerja sama tim bagi calon praktisi hukum.
PALEMBANG (Utusan Rakyat) – Menjadi advokat tidak cukup hanya menguasai pasal, piawai menyusun argumentasi, atau mampu berdebat di ruang persidangan. Kemampuan bekerja sama, mengendalikan ego, membangun komunikasi, hingga memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial juga menjadi modal penting seorang praktisi hukum. Pesan itulah yang coba ditanamkan Kantor Hukum Andre Macan & Partners (AMP) Law Firm kepada para calon advokat dan mahasiswa hukum yang tengah menjalani program magang.
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dimanfaatkan AMP Law Firm untuk menguji sekaligus membangun karakter tersebut melalui kegiatan “Lomba Merdeka Bersama” di lingkungan kantor AMP Law Firm, Jalan Kebun Sirih, Kelurahan Bukit Sangkal, Kecamatan Kalidoni, Palembang, Sabtu (15/8/2026).
Bukan sekadar mencari pemenang, kegiatan itu dirancang untuk mempertemukan advokat, calon advokat, dan mahasiswa magang dalam satu ruang yang sama tanpa sekat jabatan maupun senioritas.
Sejak pukul 09.00 WIB, suasana kantor yang sehari-hari identik dengan penanganan perkara berubah menjadi arena permainan. Peserta dibagi dalam kelompok berisi empat orang dan harus menyelesaikan 10 jenis permainan.
Di antaranya memasukkan pipet ke botol, estafet karet menggunakan pipet, estafet sarung, lempar balon menggunakan sarung, memindahkan air menggunakan kaki, kepiting berjamaah, ular balon, estafet tepung menggunakan piring, lempar air menggunakan plastik, hingga permainan hitung angka.
Permainan tersebut memang sederhana. Namun, di balik itu peserta dituntut berkomunikasi, menyusun strategi, menjaga ritme tim, dan saling mempercayai.
Di sinilah pesan kegiatan tersebut dibangun.
Ketua pelaksana Muhammad Fahri Saputra mengatakan, kegiatan tersebut memang dikemas dalam suasana santai. Namun, panitia sengaja memilih permainan yang dapat mendorong interaksi antarpeserta.
“Untuk hari ini kami melaksanakan 10 lomba. Pagi tadi kami buka dengan pembukaan dan kata sambutan dari direktur, kemudian langsung dilanjutkan dengan perlombaan,” ujar Fahri.
Menurut dia, seluruh perlombaan dibagi dalam dua sesi. Beberapa permainan sengaja dibuat menantang agar peserta tidak hanya bersenang-senang, tetapi juga membangun kekompakan.
“Kalau untuk pemain juga happy. Mereka sangat antusias mengikuti perlombaan. Memang ada beberapa lomba yang cukup sulit karena kami sengaja membuat permainan yang seru sekaligus menantang,” katanya.
Fahri berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda perayaan kemerdekaan tahun ini.
“Harapan saya ke depannya kegiatan lomba seperti ini bisa dilaksanakan setiap tahun dan semakin mempererat tali kebersamaan, khususnya bagi anak-anak magang,” ujarnya.
Direktur AMP Law Firm, Andri Diwyan Cahyadi, S.H., C.H.R.M., C.MSP, melihat kegiatan tersebut sebagai cara sederhana untuk menghadirkan kembali semangat kemerdekaan di lingkungan kerja.
Menurut dia, kegiatan nonformal justru dapat membuka ruang interaksi yang lebih cair di antara seluruh keluarga besar AMP Law Firm.
“Alhamdulillah kegiatan hari ini berjalan lancar. Kawan-kawan juga sangat senang mengikuti acara ini. Semangat juang 45-nya terlihat dari antusiasme seluruh peserta,” kata Andri.
Namun, makna kemerdekaan bagi lingkungan kantor hukum tidak berhenti pada semangat perlombaan.
Owner AMP Law Firm, Andre Macan, S.H., M.H., C.H.R.M., C.MSP, mengaitkan momentum tersebut dengan persoalan yang lebih fundamental dalam dunia hukum: hak masyarakat untuk memperoleh keadilan dan kepastian hukum.
“Semarak kemerdekaan ini adalah momentum untuk mengingatkan kita semua bahwa kemerdekaan hakiki bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, melainkan kemerdekaan untuk mendapatkan keadilan dan kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegas Andre.
Menurut Andre, perspektif tersebut penting ditanamkan sejak seseorang masih berada dalam tahap pendidikan dan pembentukan diri sebagai calon praktisi hukum.
Andre menilai mahasiswa hukum yang menjalani magang tidak boleh hanya diarahkan untuk memahami aspek teknis pekerjaan hukum.
Memahami berkas perkara, menyusun argumentasi, melakukan riset hukum, maupun mengikuti proses persidangan memang penting. Tetapi, seorang calon advokat juga harus mempunyai kemampuan membangun relasi dan bekerja bersama orang lain.
“Seorang advokat tidak hanya dituntut tajam secara intelektual dalam mengawal perkara, tetapi juga harus memiliki kepekaan emosional, kerja sama tim, dan kepedulian sosial yang tinggi,” ujar Andre.
Karena itu, menurut dia, pembentukan karakter harus dimulai sejak dini.
AMP Law Firm berupaya menjadikan lingkungan kerja sekaligus ruang belajar bagi mahasiswa hukum untuk mengenal dinamika profesi secara lebih utuh.
“Kami di AMP Law Firm ingin menanamkan nilai-nilai solidaritas, sportivitas, dan sinergitas sejak dini kepada para calon praktisi hukum ini,” katanya.
Bagi Andre, kegiatan bersama juga menjadi sarana untuk mencairkan batas antara advokat senior, calon advokat, dan mahasiswa magang.
“Melalui perlombaan kebersamaan seperti ini, kita leburkan batas dan perkuat fondasi karakter mereka,” ujarnya.
Rangkaian perlombaan kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang dan pembagian hadiah.
Tetapi, ada pelajaran lain yang dianggap lebih penting daripada siapa yang keluar sebagai juara.
Dalam setiap permainan, peserta dipaksa untuk saling berkomunikasi, mempercayai anggota kelompok, mengendalikan emosi, dan mengesampingkan kepentingan pribadi demi target bersama.
Nilai-nilai tersebut juga menjadi bagian dari dunia profesi hukum.
Dalam menangani perkara, seorang advokat tidak bekerja sendirian. Dibutuhkan komunikasi antara advokat, calon advokat, paralegal, maupun tim pendukung lainnya. Perbedaan pendapat harus dikelola, sementara kepentingan klien harus tetap menjadi prioritas.
Dari permainan sederhana itulah AMP Law Firm mencoba memperkenalkan satu prinsip: kemampuan hukum harus berjalan beriringan dengan karakter.
Semangat kemerdekaan pun tidak berhenti pada seremoni tahunan.
Bagi AMP Law Firm, kemerdekaan diterjemahkan melalui upaya menyiapkan generasi muda hukum yang bukan hanya cakap secara intelektual, tetapi juga mampu bekerja bersama, menjunjung sportivitas, memiliki solidaritas, dan memahami bahwa profesi hukum pada akhirnya berkaitan dengan perjuangan menghadirkan keadilan bagi masyarakat.
/Kontributor : Hotman Ferizal Saragi





















































Discussion about this post