Gambar: Suasana sepi di salah satu loket pelayanan publik Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) yang dikeluhkan warga karena jam operasional yang kerap tidak menentu dan tidak tepat waktu (ontime). Kondisi ini berdampak langsung pada warga yang membutuhkan dokumen atau bantuan kepolisian, yang seringkali harus membuang waktu berjam-jam untuk menunggu petugas. Menurut petugas Satpol PP di lokasi, Teguh, ketidakpastian operasional disebabkan jadwal penugasan personel kepolisian yang selalu berganti. Warga berharap segera ada perbaikan manajemen dan evaluasi kinerja demi pelayanan publik yang ideal.
Pekanbaru (Utusan Rakyat) – Salah satu loket pelayanan publik, yakni Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), dikeluhkan warga karena jam operasionalnya yang kerap tidak menentu atau tidak tepat waktu (ontime). Selain ketidakpastian jadwal buka, pergantian petugas yang sering terjadi setiap harinya semakin menambah ketidakjelasan informasi bagi masyarakat.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada warga yang membutuhkan dokumen atau bantuan kepolisian secara cepat. Tidak sedikit masyarakat yang harus bersabar dan merelakan waktunya terbuang hingga berjam-jam hanya untuk menunggu kepastian hadirnya petugas di loket pelayanan tersebut.
Berdasarkan keterangan dari salah seorang petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang bertugas di area tersebut, Teguh, ketidakpastian jam operasional ini dipicu oleh ketidakjelasan jadwal penugasan dari pihak kepolisian. Menurutnya, alokasi waktu dan personel penanggung jawab belum teratur secara konsisten.
“Faktor jam operasional yang tidak menentu ini dikarenakan jadwal penugasan dari personel kepolisian yang belum dipastikan dan selalu berganti-ganti,” ujar Teguh saat memberikan keterangannya terkait situasi pelayanan harian di lokasi tersebut.
Ketidakpastian ini memicu kekecewaan mendalam dari sejumlah warga yang sengaja datang sejak pagi. Salah seorang warga bahkan menyuarakan kekesalannya atas buruknya tata kelola jam kerja dan kesiapan personel pada loket pelayanan publik tersebut.
“Pelayanan publik mengapa bisa seperti ini? Mereka seolah bertugas sesuka hati tanpa memikirkan warga yang antre. Ini sama saja dengan makan gaji buta,” ujar salah seorang warga dengan nada kecewa saat ditemui di lokasi pelayanan.
Warga tersebut menegaskan harapannya agar instansi terkait segera melakukan perbaikan manajemen pelayanan. Ia juga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja operasional loket SPKT agar fungsi pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Pelayanan publik yang ideal sejatinya dirancang untuk memberikan kemudahan, kecepatan, dan kepastian bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun, praktik ketidakdisiplinan jadwal operasional di lapangan ini justru dinilai memperlambat urusan warga serta mencoreng citra tata kelola pelayanan instansi pemerintah.
/Zakius Duha





















































Discussion about this post