Gambar: Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, didampingi jajaran pengurus pusat dan daerah saat melantik kepengurusan DPW serta 17 DPD PAN se-Sumatera Selatan di Palembang, Kamis (30/4/2026). Momentum ini menandai dimulainya strategi jangka panjang PAN di Sumsel sebagai barometer politik nasional menuju Pemilu 2030.
PALEMBANG (Utusan Rakyat) – Ketika banyak partai masih membaca peta politik pasca pemilu terakhir, Partai Amanat Nasional (PAN) justru memilih tancap gas lebih awal di Sumatera Selatan. Bukan tanpa alasan: provinsi ini dijadikan “arena uji nyali” untuk membuktikan ambisi besar mereka di Pemilu 2030.
Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, datang langsung ke Palembang untuk melantik kepengurusan DPW dan 17 DPD PAN se-Sumsel. Namun pelantikan ini terasa lebih seperti “kick-off politik” ketimbang seremoni organisasi.
Alih-alih pidato normatif, Zulhas langsung memasang tekanan tinggi: Sumsel harus masuk tiga besar.
Langkah ini terbilang agresif. Dengan waktu yang masih cukup panjang menuju 2030, PAN memilih strategi yang jarang diambil partai lain memulai lebih cepat, sekaligus mempertaruhkan konsistensi jangka panjang.
Di tengah instruksi keras itu, Joncik Muhammad dituntut bukan hanya menjaga soliditas internal, tetapi juga membuktikan bahwa PAN mampu keluar dari pola lama politik elektoral yang cenderung instan.
“Tidak ada lagi politik musiman. Kalau kita mulai sekarang, rakyat bisa menilai,” kata Joncik.
Pernyataan ini menyiratkan satu hal: PAN mencoba menggeser pendekatan dari sekadar kampanye menuju kerja politik berkelanjutan. Tapi di sinilah risikonya strategi jangka panjang menuntut disiplin yang sering kali sulit dijaga dalam dinamika politik lokal.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PAN, Eko Hendro Purnomo, secara terang-terangan mengaitkan Sumsel dengan nasib PAN secara nasional. Artinya, kegagalan di daerah ini bisa berdampak lebih luas.
“Sumsel ini barometer. Kalau di sini berhasil, efeknya nasional,” ujarnya.
Dengan kata lain, Sumsel bukan sekadar target melainkan pertaruhan.
PAN kini menghadapi dua tantangan sekaligus. Pertama, menjaga mesin partai tetap panas dalam jangka panjang tanpa kehilangan momentum. Kedua, membuktikan bahwa jargon “kerja nyata” benar-benar terasa di masyarakat, bukan sekadar narasi politik.
Di tengah kompetisi yang diprediksi semakin ketat, keputusan untuk memulai lebih awal bisa menjadi keunggulan strategis. Namun jika gagal menjaga ritme, langkah cepat ini justru berisiko menjadi kelelahan dini.
PAN sudah menekan pedal gas di Sumsel. Kini publik menunggu: apakah ini awal dari lonjakan, atau justru start yang terlalu terburu-buru?.
/Kontributor : Hotman Ferrizal Saragi/amir



















































Discussion about this post