Gambar: Memperlihatkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi, dr. Henry Manik, bersama Ny. Sri Dewi Wahyu Sagala, jajaran tenaga kesehatan, serta jajaran Dinas Kesehatan dan TP PKK Kabupaten Dairi berfoto bersama usai pelaksanaan acara evaluasi.
SIDIKALANG (Utusan Rakyat) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dairi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dari hulu hingga hilir untuk menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Upaya tersebut tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan medis, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga, kader PKK, Posyandu, serta pemerintah hingga tingkat desa.
Hal itu disampaikan Staf Ahli TP PKK Kabupaten Dairi, Ny. Sri Dewi Wahyu Sagala, saat menghadiri pertemuan evaluasi Puskesmas dan rumah sakit dalam pencegahan serta penanganan penyebab utama AKI dan AKB di Kabupaten Dairi, Selasa (20/10/2026), di Hotel Beristera, Sidikalang. Ia hadir mewakili Ketua TP PKK Kabupaten Dairi, Ny. Rita Puspita Vickner Sinaga.
Dalam sambutannya, Sri Dewi menegaskan bahwa pencegahan kematian ibu dan bayi merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata-mata tugas tenaga kesehatan di rumah sakit maupun Puskesmas.
Menurutnya, upaya penyelamatan ibu dan bayi harus dimulai sejak dini, terutama melalui peningkatan kesadaran keluarga dan penguatan peran masyarakat dalam mengenali risiko kehamilan.
“Pencegahan kematian ibu dan bayi harus dimulai dari hulu, yakni dari lingkungan keluarga. Di sinilah peran TP PKK sebagai mitra strategis pemerintah menjadi sangat penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Puskesmas dan rumah sakit berperan sebagai garda terdepan pelayanan medis, sedangkan kader PKK, kelompok Dasa Wisma, dan Posyandu menjadi ujung tombak dalam mendeteksi serta memantau kondisi kesehatan ibu hamil di tengah masyarakat.
Karena itu, Sri Dewi mendorong penguatan sinergi antara tenaga kesehatan dan kader pemberdayaan masyarakat, khususnya melalui deteksi dini berbasis Dasa Wisma. Kader diharapkan lebih aktif mendata dan memantau ibu hamil di wilayah masing-masing agar potensi risiko dapat diketahui sedini mungkin.
Selain deteksi dini, ia menekankan pentingnya memutus rantai tiga terlambat, yakni terlambat mengenali tanda bahaya, terlambat mengambil keputusan untuk mencari pertolongan, serta terlambat mendapatkan penanganan medis.
“Kader PKK perlu mengedukasi keluarga agar mampu mengenali tanda bahaya kehamilan, mengambil keputusan dengan cepat, dan segera membawa ibu ke fasilitas kesehatan ketika membutuhkan pertolongan,” katanya.
Sri Dewi juga menyoroti pentingnya pengawalan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) serta optimalisasi pelayanan Posyandu.
Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan ibu hamil memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar dan asupan gizi yang memadai, sekaligus mencegah komplikasi kehamilan serta gangguan pertumbuhan pada bayi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi, dr. Henry Manik, dalam paparannya menyampaikan bahwa penurunan AKI dan AKB membutuhkan intervensi menyeluruh sejak sebelum kehamilan hingga persalinan dan masa perawatan bayi.
Menurutnya, penanganan medis di ruang bersalin atau ruang operasi terkadang menghadapi kondisi yang sudah terlambat ditangani karena persoalan mendasar belum teratasi sejak awal.
Sejumlah faktor yang perlu mendapat perhatian meliputi masalah gizi, keterlambatan rujukan, keterbatasan edukasi bagi calon pengantin, serta kendala administrasi dan pembiayaan pelayanan kesehatan.
“Penurunan AKI dan AKB di Kabupaten Dairi tidak akan tuntas jika hanya mengandalkan intervensi di ruang bersalin. Keterlibatan seluruh pihak menjadi kunci untuk menyelesaikan persoalan dari hulu hingga hilir,” ujar Henry.
Ia menegaskan, diperlukan kolaborasi berkelanjutan melalui penguatan dukungan anggaran program, penggerakan masyarakat di tingkat desa, edukasi kesehatan bagi calon pengantin dan remaja putri, serta kemudahan akses terhadap jaminan dan pembiayaan kesehatan.
Melalui sinergi lintas sektor tersebut, Pemkab Dairi berharap pemantauan ibu hamil dapat berjalan lebih optimal, risiko komplikasi dapat dideteksi lebih awal, dan setiap ibu memperoleh penanganan yang tepat sehingga keselamatan ibu dan bayi semakin terjamin.
/Clara Siahaan



















































Discussion about this post