Gambar: Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10/2026), menjadi momentum krusial bagi pers dan generasi muda untuk memperkuat persatuan bangsa. Pimpinan Redaksi Utusan Rakyat, Herwin MT. Sagala, menegaskan bahwa pers sebagai pilar keempat demokrasi memegang peran sentral dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di era digital.
PEKANBARU (Utusan Rakyat) – Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada Rabu, 28 Oktober 2026, menjadi momentum krusial bagi seluruh elemen bangsa untuk merenungkan kembali fondasi persatuan yang digagas para pemuda pada tahun 1928. Ikrar bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia bukan sekadar lembaran sejarah, melainkan tumpuan hidup berbangsa yang harus terus dirawat di setiap zaman.
Dalam konteks era modern, semangat persatuan tersebut bertransformasi ke dalam pelbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara, tak terkecuali dalam dunia informasi dan komunikasi. Pers sebagai pilar keempat demokrasi memegang peran sentral dalam memastikan api persatuan yang dinyalakan oleh Sumpah Pemuda tetap membara dan tidak padam digilas dinamika zaman.
Pimpinan Redaksi sekaligus Pimpinan Umum Utusan Rakyat (www.utusanrakyat.id), Herwin MT. Sagala, menegaskan bahwa posisi pers hari ini sejatinya tidak dapat dipisahkan dari spirit Sumpah Pemuda. Pers bukan sekadar penyampai berita, melainkan sarana perekat kebangsaan yang bertugas menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Jika 98 tahun lalu para pemuda menyatukan simpul-simpul kedaerahan melalui satu bahasa persatuan, maka hari ini Pers Nasional bertindak sebagai penyambung lidah publik yang merajut keberagaman tersebut menjadi kekuatan utuh,” tegas Herwin MT. Sagala dalam keterangannya di Pekanbaru, Rabu (28/10/2026).
Tantangan Era Digital: Literasi Informasi dan Nalar Kritis
Memasuki arsitektur era digitalisasi modern, lanskap informasi mengalami pergeseran fundamental. Kecepatan transmisi data yang begitu masif membawa dampak ganda: di satu sisi membuka ruang akses pengetahuan yang luas, namun di sisi lain memicu disrupsi arus informasi yang rentan terhadap manipulasi.
Fenomena maraknya hoax, ujaran kebencian, hingga disinformasi di media sosial menjadi ancaman nyata bagi stabilitas sosial dan persatuan nasional. Era banjir informasi ini menuntut hadirnya kesadaran literasi media yang kuat dari seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.
Mengamati dinamika tersebut, Herwin menekankan pentingnya daya kritis pemuda Indonesia dalam mencerna setiap jengkal informasi yang beredar di ruang siber. Pemuda dituntut tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi provokatif yang sengaja didesain untuk memecah belah bangsa.
“Kritis adalah jiwa pemuda, namun sikap kritis di era digital harus disandarkan pada literasi yang matang serta berorientasi pada nilai-nilai yang membangun. Pemuda harus menjadi penyaring informasi, bukan penyebar sensasi,” ujar Pimpinan Redaksi Utusan Rakyat tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa narasi yang dibangun oleh pemuda harus menjauhi pola-pola pembelahan yang memperuncing isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Keberagaman Indonesia adalah kekayaan historis yang harus dijaga bersama, bukan bahan bakar untuk perselisihan.
Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Konsensus Nasional
Sebagai alumnus Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan 224 Lemhannas RI, Herwin MT. Sagala turut menggarisbawahi pentingnya penguatan Wawasan Kebangsaan sebagai imunitas nasional di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang tanpa batas (borderless).
Pemahaman akan empat konsensus dasar berbangsa dan bernegara, yaitu; Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, adalah fondasi mutlak yang tidak boleh tawar-menawar.
Herwin mengimbau agar seluruh elemen bangsa senantiasa menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Kebinekaan yang dimiliki Indonesia merupakan takdir sejarah yang harus disyukuri dan dirawat melalui tatanan hukum serta etika berbangsa.
“NKRI adalah harga mati. Berdiri teguh di atas pijakan Pancasila dan UUD 1945 serta merawat Bhinneka Tunggal Ika adalah jalan tunggal bagi Indonesia untuk tetap berdaulat dan disegani di panggung dunia,” papar penggiat hukum dan pers tersebut.
Dalam perspektif ketahanan nasional, pers yang sehat dan profesional berperan sebagai early warning system sekaligus penjernih ruang publik ketika terjadi simpang siur informasi yang berpotensi meretakkan ketahanan sosial bangsa.
Karya Nyata Pemuda sebagai Tiang Penopang Bangsa
Tak hanya aktif di ranah pers dan kajian strategis kebangsaan, Herwin MT. Sagala yang juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan sebagai pengurus DPD Generasi Sosial Peduli Indonesia (GSPI) Riau dan DPD Ikatan Pemuda Karya (IPK) Riau, menyoroti pentingnya aksi konkrit generasi muda.
Menurutnya, wadah kepemudaan dan organisasi kemasyarakatan harus mampu bertransformasi menjadi laboratorium karya nyata yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan rakyat.
Pemuda tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah belaka atau sekadar menjadi penonton dalam pembangunan nasional. Gerakan kepemudaan harus menjawab tantangan zaman melalui aksi nyata di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, hingga penegakan hukum dan HAM.
“Sebagai penjaga tiang bangsa, pemuda harus membuktikan perannya melalui Karya Nyata. Semangat Ikatan Pemuda Karya dan kepedulian sosial GSPI adalah manifestasi bahwa pemuda hadir untuk bekerja, berinovasi, dan memberi solusi bagi masyarakat,” ungkap Herwin.
Sinergi antara pemikiran kritis, kesadaran wawasan kebangsaan, dan eksekusi karya nyata akan membentuk karakter pemuda yang tangguh, mandiri, serta berdaya saing tinggi.
Komitmen Utusan Rakyat Mengawal Demokrasi dan Kebangsaan
Sebagai media online dan siber yang berkomitmen pada kaidah jurnalistik berintegritas, Utusan Rakyat menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Di bawah kepemimpinan Herwin MT. Sagala, Utusan Rakyat senantiasa menerapkan prinsip edukasi, verifikasi rigor, dan keberpihakan pada kebenaran publik dalam setiap produk berita yang disajikan.
“Media Utusan Rakyat akan terus berdiri teguh sebagai pilar demokrasi yang independen, menyuarakan kebenaran tanpa keraguan, serta mengawal perjalanan bangsa ini menuju cita-cita Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Mengakhiri siaran persnya, Herwin mengajak seluruh pemuda dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, untuk bergandengan tangan merawat keutuhan bangsa.
Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026.
Bersama Pers Nasional, Bersama Pemuda Indonesia, Bersatu Menjaga Indonesia.
/Red-UR





















































Discussion about this post