Gambar: Walikota Dumai H. Paisal, SKM., MARS (kiri) menerima audiensi (Senin, 13/07/2026) bersama Tantri Subecti (dua dari kiri) yang mewakili Panitia.
DUMAI (Utusan Rakyat) – Kota Dumai bersiap menjadi tuan rumah sebuah agenda budaya berskala internasional. Sebuah kegiatan bertajuk Dialog Sastra dan Kemah Seni Budaya ini akan mempertemukan budayawan, seniman, akademisi, maupun tokoh perfilman dari empat negara ASEAN dalam satu forum wisata perkemahan alam terbuka.
Ketua Panitia, Tantri Subecti, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar forum diskusi sastra, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat persahabatan lintas negara sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam melestarikan kebudayaan.
“Kami berharap para budayawan dan tokoh-tokoh yang hadir dapat menciptakan iklim kebudayaan yang saling terhubung. Dari sana akan lahir persahabatan, kolaborasi, dan semangat bersama untuk menjaga serta mengembangkan budaya,” ujarnya sesaat setelah bertemu Walikota Dumai H. Paisal, SKM., MARS di Kompleks Kantor Pemerintah Kota Dumai (Senin, 13/07/2026).
Tantri menjelaskan, event ini akan menghadirkan tokoh-tokoh sastra dan budaya dari empat negara ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei maupun Thailand, yang ditaja selama tiga hari mulai tanggal 11 hingga 13 September 2026 mendatang. Mengusung konsep yang berbeda dari kegiatan seni budaya pada umumnya, seluruh peserta akan mengikuti rangkaian kegiatan dengan berkemah di kawasan Pantai Tantrayana Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai. Peserta dapat menikmati suasana alam sekaligus mengenal potensi dan destinasi wisata yang ada di Kota Dumai. Selain itu, konsep perkemahan dipilih bukan hanya untuk menghadirkan pengalaman yang berbeda, tetapi juga untuk menekan biaya penyelenggaraan agar tetap dapat terjangkau.
“Kalau seluruh kegiatan dilaksanakan di hotel tentu biayanya jauh lebih besar. Dengan konsep kemah, peserta tetap mendapatkan fasilitas yang baik dan memadai selama tiga hari dua malam, dengan biaya yang lebih ringan,” jelas Seniwati perfilman Dumai tersebut. Ia juga menegaskan bahwa panitia tidak mengambil keuntungan dari biaya yang dibayarkan peserta. Seluruh dana akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan operasional selama kegiatan berlangsung.
Meski demikian, panitia masih membutuhkan dukungan fasilitas dan utilitas dari berbagai pihak, terutama penyediaan panggung utama, fasilitas MCK, sound system, hingga sarana pendukung lainnya yang memadai bagi sekitar seratus lima puluh orang peserta maupun panitia yang akan hadir. Selain dukungan fasilitas, panitia juga mengharapkan adanya surat rekomendasi dari pemerintah daerah sebagai dasar untuk menjalin kerja sama dengan calon sponsor.
Dalam rangka mempersiapkan kegiatan tersebut, panitia telah melakukan audiensi dengan Walikota Dumai dan Kepala Dinas Pariwisata Kota Dumai. Tantri mengungkapkan pertemuan berlangsung hangat dan mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah. Dalam kesempatan ini, panitia juga memaparkan konsep kegiatan sekaligus berharap Pemerintah Kota Dumai dapat memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan acara yang dinilai memiliki nilai strategis bagi promosi budaya dan pariwisata daerah.
“Karena ini melibatkan empat negara, kami ingin menjadi tuan rumah yang baik. Kami berharap kegiatan ini mendapatkan perhatian dan dukungan dari berbagai instansi agar dapat berjalan sukses,” ujar Tantri.
Wanita yang juga aktif dalam perfilman dokumenter ini menambahkan bahwa keterbatasan pendanaan tidak menyurutkan semangat panitia untuk menghadirkan kegiatan budaya yang berkualitas dan mampu membawa nama Dumai ke tingkat nasional maupun internasional. “Kami ingin menjadikan Dumai sebagai sumber inspirasi. Semoga kegiatan ini mempererat hubungan para seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat dalam semangat untuk terus berkarya, melestarikan budaya, dan mengabdi untuk kemajuan daerah,” ujarnya.
Menurut Tantri, Dumai memiliki banyak potensi cerita, sejarah, dan kekayaan budaya yang layak diangkat ke dalam film layar lebar. “Kami berharap insan perfilman bisa melihat langsung potensi Dumai. Siapa tahu ke depan lahir film kolosal yang mengangkat kisah-kisah dari daerah ini,” katanya.
Dalam kesempatan audiensi yang dilakukan Panitia bersama Pemerintah Kota Dumai, H. Paisal, SKM., MARS menyambut dan merespon dengan baik serta berharap agar event yang akan mempromosikan kompang sebagai tradisi sambut tamu dalam budaya Melayu serta menjelajahi potensi wisata bahari Kota Dumai menggunakan pompong untuk menyusuri kampung-kampung pesisir ini, dapat membangkitkan semangat seni dan kebudayaan Melayu di Kota Dumai.
Untuk memperkuat daya tarik acara, panitia juga mengundang sejumlah tokoh nasional di bidang perfilman, di antaranya sutradara Budi Sumarno dan Bejo Sulistyo. Kehadiran mereka diharapkan dapat membuka peluang bagi Dumai menjadi lokasi pengembangan industri kreatif dan perfilman.
Selain tokoh perfilman, kegiatan tersebut juga akan menghadirkan sejumlah akademisi dan budayawan terkemuka, seperti Prof. Alaidin Koto, Prof. Husnus Abadi, Prof. Galang Asmara, serta peserta dari berbagai negara. Turut dijadwalkan hadir Datuk Seri Paduka Ramli, tokoh bisnis tingkat ASEAN.
/IG





















































Discussion about this post