Gambar: Kolase foto inspiratif yang mempertemukan kesederhanaan seorang ayah (kanan) asal Desa Manufui, Timor Tengah Selatan, NTT, dengan putranya (kiri) yang telah resmi dilantik menjadi prajurit TNI di Bandung, Jawa Barat. Akibat keterbatasan ekonomi untuk membeli tiket pesawat, sang ayah yang sehari-hari bekerja sebagai petani ladang ini membulatkan tekad menempuh perjalanan ribuan kilometer.
BANDUNG (Utusan Rakyat) – Kisah perjuangan mengharukan seorang ayah asal pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT) demi menghadiri upacara pelantikan putranya menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Bandung, Jawa Barat, mendadak viral dan menyentuh hati jutaan netizen di berbagai platform media sosial.
Di balik gagahnya seragam militer yang kini melekat pada tubuh sang anak, ada jejak kaki renta seorang ayah yang lecet akibat menempuh perjalanan darat dan laut sejauh ribuan kilometer. Mengesampingkan rasa lelah dan keterbatasan ekonomi, pria paruh baya tersebut membuktikan bahwa cinta orang tua akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Dari Desa Manufui Menuju Tanah Pasundan
Sosok ayah bersahaja tersebut diketahui berasal dari Desa Manufui, Kecamatan Santian, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT. Sehari-hari, ia bekerja keras sebagai petani ladang demi menyambung hidup dan memastikan anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan untuk menggapai cita-cita.
Ketika menerima kabar bahwa putranya lulus pendidikan militer dan akan dilantik di Bandung, kebahagiaan luar biasa membuncah di hatinya. Namun, kegembiraan itu sempat diuji oleh realitas ekonomi: tabungan yang dimilikinya tidak cukup untuk membeli tiket pesawat terbang yang harganya mencapai jutaan rupiah dari Kupang ke Bandung.
Enggan menyerah pada keadaan, sang ayah membulatkan tekad untuk berangkat menggunakan modal seadanya melalui jalur transportasi alternatif yang memakan waktu berhari-hari.
Estafet Kapal Laut dan Bus Umum
Perjalanan dimulai dari desanya di pelosok TTS. Ia harus berjalan kaki dan menggunakan transportasi darat lokal menuju pelabuhan terdekat di Pulau Timor. Dari sana, ia menumpang kapal laut kelas ekonomi milik PT Pelni untuk menyeberangi lautan luas menuju Pulau Jawa.
Setibanya di pelabuhan transit di Pulau Jawa, perjuangan belum usai. Bermodalkan ingatan dan petunjuk arah dari warga yang ditemuinya, sang ayah melanjutkan perjalanan darat dengan berganti-ganti bus umum antarkota selama berjam-jam hingga akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Kota Bandung.
Sandal Jepit dan Tangis yang Pecah
Kehadiran sang ayah di tengah keramaian upacara pelantikan langsung menarik perhatian banyak pasang mata. Di saat sebagian besar orang tua wali hadir mengenakan pakaian formal dan sepatu rapi, ayah asal NTT ini berdiri kokoh dengan penampilan yang sangat kontras: baju motif kain biasa, topi cokelat yang mulai lusuh, celana pendek dengan balutan kain adat, serta sepasang sandal jepit.
Ketika upacara selesai dan para prajurit baru diizinkan menemui keluarga, tangis haru seketika pecah tak terbendung. Sang anak yang kini berdiri tegap berpakaian dinas upacara lengkap langsung merengkuh erat tubuh ayahnya. Di tengah pelukan tersebut, semua rasa lelah, lapar, panas, serta perjuangan puluhan tahun merawat dan mendoakan sang anak seolah terbayar lunas.
Kisah nyata ini menjadi tamparan sekaligus pengingat berharga bagi publik bahwa tidak semua pahlawan mengenakan seragam kebesaran atau jubah kepahlawanan. Sebagian besar pahlawan sejati justru adalah mereka yang bekerja keras dalam diam di belakang layar, rela mengorbankan segalanya demi masa depan anak-anak mereka.
/H4N4EL



















































Discussion about this post