Gambar: Massa dari LBPH Kosgoro Sumsel dan Sriwijaya Corruption Watch (SCW) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Palembang, Rabu (28/10/2026). Dalam aksinya, mereka menuntut penindakan tegas terhadap mafia penyalahgunaan BBM subsidi jenis Solar serta mendesak pencopotan pejabat Pertamina yang dinilai gagal mengawasi distribusi energi.
PALEMBANG (Utusan Rakyat) – Keruwetan kelangkaan serta antrean mengular Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar di Sumatra Selatan (Sumsel) pada akhirnya membongkar kebobrokan sistem pengawasan distribusi energi negara.
Diduga kuat, BBM subsidi rakyat telah dijarah secara sistematis oleh korporasi swasta melalui modus pencurian data pribadi hingga persekongkolan oknum Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).Kemarahan publik ini mencapai puncaknya tatkala puluhan massa dari Lembaga Bantuan Pertolongan Hukum (LBPH) Kosgoro Sumsel dan Sriwijaya Corruption Watch (SCW) menggerebek serta menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel di Palembang, Rabu (28/10/2026).
Dalam aksi tersebut, massa membongkar praktik kotor di balik penderitaan para sopir dan masyarakat kecil yang harus mengantre berjam-jam demi memperoleh beberapa liter Solar.Berdasarkan investigasi lapangan serta dokumen resmi bertanggal 28 Oktober 2026 yang ditandatangani oleh Direktur Eksekutif SCW M. Sanusi, AS bersama Koordinator David S. dan Didit S., terkuak setidaknya tiga modus utama kejahatan penyaluran Solar subsidi di wilayah Sumsel:
- Pencurian & Manipulasi Barcode MyPertamina: Data pribadi warga dicuri dan dimanipulasi secara ilegal untuk mencetak Barcode MyPertamina yang kemudian disalahgunakan guna menyuplai BBM subsidi ke armada korporasi swasta.
- Kendaraan Bodong & Penyusupan Armada BUMN/Swasta: Terdapat ketidaksesuaian identitas kendaraan operasional Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta yang secara leluasa menikmati Solar subsidi tanpa tersentuh sanksi.
- Kongkalikong SPBU Nakal: Adanya kerja sama terlarang antara oknum pengelola SPBU dan korporasi retail swasta untuk memperjualbelikan kuota Solar subsidi secara melanggar hukum.”Ini bukan sekadar masalah teknis antrean, ini adalah kejahatan sistematis! Kuota Solar untuk rakyat miskin dan usaha kecil dirampok oleh korporasi ber-barcode bodong hasil manipulasi data,” tegas koordinator aksi di lapangan.
Tidak hanya berorasi, pihak SCW melontarkan empat tuntutan keras dan bernada ultimatum seandainya Pertamina tidak segera mengambil tindakan tegas:• Bersihkan Armada Korporasi: Mendesak PT Pertamina untuk segera menertibkan dan membersihkan seluruh kendaraan korporasi yang menyerobot Solar subsidi di Sumsel.
- Copot Petinggi Pertamina Sumbagsel: Menuntut penonaktifan serta pencopotan Direktur Utama dan pejabat eksekutif PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel yang dinilai mandul dan gagal total dalam mengawasi distribusi energi.
- Tutup SPBU Nakal: Menuntut penjatuhan sanksi pidana serta penutupan permanen melalui pencabutan izin bagi SPBU yang terbukti menjadi sarang mafia Solar.
- Kawal Jalur Hukum: Berkomitmen penuh mengawal kasus pencurian data dan manipulasi kuota subsidi ini hingga tuntas ke hadapan aparat penegak hukum (APH).
Di bawah pengawalan ketat pihak kepolisian, perwakilan manajemen PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel akhirnya menemui para demonstran. Pihak Pertamina berjanji akan menghormati setiap kritik yang disampaikan serta menindaklanjuti seluruh temuan penyimpangan di lapangan.
Kendati demikian, alih-alih memberikan sanksi secara langsung di tempat terhadap SPBU atau jajarannya yang diduga terlibat, pihak Pertamina justru mengembalikan tanggung jawab kepada masyarakat dengan mengimbau warga agar melaporkan apabila menemukan indikasi kecurangan melalui Contact Center 135.
Kini, publik menantikan langkah nyata dari pihak Pertamina: Apakah keberanian untuk memberantas mafia Solar ini benar-benar terwujud, atau sekadar janji manis penertiban yang kembali menguap di tengah penderitaan warga yang terus mengantre di jalanan.
/Kontributor: Hotman Ferizal Saragi





















































Discussion about this post