Gambar: Ilustrasi konsep Roadmap PQC Migration. (ilustrasi: Gen/AI)
KOTA DUMAI (Utusan Rakyat) – Dengan perkembangan AI dan Cryptography, diperkirakan peradaban kita akan memasuki era Komputer Kuantum pada 2030an, dan sangat berpotensi menghadapi resiko keamanan dimasa depan yang tidak lama lagi akan kita hadapi.
PQC migration adalah program modernisasi keamanan kriptografi untuk menghadapi risiko komputer kuantum; bukan sekadar update satu aplikasi atau mengganti satu sertifikat.
Pada PQC Migration proses memindahkan sistem kriptografi dari algoritma kunci-publik lama, terutama RSA dan ECC, ke algoritma post-quantum cryptography yang dirancang tetap aman bila komputer kuantum nantinya mampu memecahkan kriptografi lama.
Contoh sederhana:
Sebuah organisasi punya portal web dengan HTTPS, VPN karyawan, dan aplikasi mobile:
-HTTPS memakai sertifikat ECDSA dan TLS berbasis ECDH.
-VPN memakai pertukaran kunci berbasis ECC.
-Aplikasi mobile lama mungkin tidak mendukung algoritma atau sertifikat baru.
PQC migration berarti organisasi tersebut memetakan seluruh penggunaan itu, memperbarui library/protokol serta kesiapan vendor, menjalankan uji hybrid pada layanan prioritas, lalu bertahap mengganti komponen klasik yang rentan, tanpa membuat akses pengguna atau integrasi lama putus.
“APA URGENSINYA SEKARANG DILAKUKAN DEKLARASI PQC ROADMAP?”
Urgensinya bukan karena komputer kuantum sudah siap membobol enkripsi hari ini, melainkan karena waktu untuk mengubah infrastruktur kriptografi nasional sangat panjang, sementara data bernilai tinggi dapat dicuri sekarang untuk dibuka nanti. Deklarasi roadmap sekarang adalah langkah koordinasi dan penguncian komitmen, bukan berarti seluruh sistem langsung bermigrasi ke PQC.
- Risiko sudah dimulai: harvest now, decrypt later
Aktor siber dapat menyadap dan menyimpan trafik atau data terenkripsi saat ini, misalnya data pemerintah, perbankan, transaksi, kesehatan, intelijen, dan komunikasi bisnis, untuk didekripsi ketika komputer kuantum yang relevan tersedia.
Jika data harus rahasia selama 10–20 tahun, menunggu sampai “Q-Day” praktis sudah terlambat. CISA, NSA, dan NIST secara eksplisit mendorong organisasi untuk mulai membuat roadmap, inventaris kriptografi, analisis risiko, dan melibatkan vendor sejak dini karena risiko ini. - Migrasi bukan sekadar ganti algoritma
PQC menyentuh hampir seluruh lapisan digital:
-Sertifikat digital dan PKI.
-HTTPS/TLS, API, VPN, SSH, Wi-Fi, dan remote access.
-HSM, key management, tanda tangan dokumen dan code signing.
-Core banking, aplikasi e-commerce, perangkat telko, cloud, IoT, hingga sistem legacy pemerintah.
Setiap sistem punya vendor, versi aplikasi, kompatibilitas perangkat, siklus pengadaan, dan risiko downtime. Tanpa peta kriptografi nasional/organisasi, sering kali bahkan tidak diketahui di mana RSA atau ECC tertanam. - Ada jendela implementasi yang realistis
Sebagai pembanding, NCSC Inggris memberi target organisasi untuk:
-Hingga 2028: menemukan seluruh layanan/infrastruktur yang memakai kriptografi dan menyusun rencana migrasi.
-2028–2031: meng-upgrade prioritas tertinggi.
-2031–2035: merampungkan migrasi untuk sistem, layanan, dan produk.
Jadi, deklarasi di Indonesia sekarang logis jika tujuannya menyelesaikan fondasi, standar, inventaris, SDM, procurement, kesiapan vendor, dan uji interoperabilitas, sebelum fase migrasi besar.
“Kenapa bentuknya deklarasi roadmap?”
Dalam konteks DataSecurAI, deklarasi Roadmap PQC Migration diposisikan sebagai komitmen lintas pemerintah, regulator, industri, dan akademisi, dengan perhatian pada sektor vital seperti keuangan/perbankan dan e-commerce.
(@PT)




















































Discussion about this post