Gambar: Ketua Angkatan PPNK Lemhannas RI 224, Julham Satria (kemeja putih – nomor 3 dari kiri), bersama jajaran panitia, narasumber, dan perwakilan tokoh masyarakat berfoto bersama di area Lanud Atang Sendjaja, Bogor. PPNK Lemhannas RI Angkatan 224 mendukung penuh penyelenggaraan Basic Drone Training PT Sixware Global Informatika sebagai wujud nyata penguatan literasi teknologi, nilai kemandirian bangsa, dan ketahanan nasional di era digital.
Jakarta (Utusan Rakyat) – Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Lemhannas RI Angkatan 224 mengapresiasi sekaligus mendukung penuh penyelenggaraan Basic Drone Training yang diinisiasi oleh PT Sixware Global Informatika di Lapangan Udara Atang Sendjaja, Bogor. Langkah ini dinilai sebagai terobosan strategis dalam merawat nilai-nilai kebangsaan melalui penguatan literasi dan kemandirian teknologi di era digital.
Ketua Angkatan PPNK Lemhannas RI 224, Julham Satria, menegaskan bahwa pemahaman akan teknologi aviasi nirawak (drone) bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda dan peserta didik, bukan sekadar soal keterampilan teknis, melainkan bagian integral dari perwujudan nilai-nilai kebangsaan.
“Sebagai individu penggerak nilai-nilai kebangsaan, kami berpandangan bahwasannya 14 Nilai Kebangsaan perlu terus digali lebih dalam dan dikembangkan secara kontekstual. Upaya memperkenalkan prinsip dasar drone kepada khalayak luas, utamanya para siswa didik, adalah salah satu ikhtiar nyata dalam mewujudkan nilai kemandirian teknologi bagi bangsa Indonesia,” ujar Julham Satria.
Menurut Julham, kemandirian teknologi merupakan salah satu benteng utama dalam menjaga kedaulatan NKRI. Di tengah pesatnya arus globalisasi dan disrupsi teknologi, pemuda Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen pasif, tetapi harus mampu menguasai, mengendalikan, dan memanfaatkan teknologi udara secara bijak serta bertanggung jawab.
Pelatihan yang berlangsung di Lanud Atang Sendjaja ini dinilai sangat relevan karena berhasil menyatukan 200 peserta dari berbagai elemen bangsa, mulai dari pelajar, Gerakan Pramuka, KNPI, jurnalis, hingga perwakilan instansi pemerintah dan swasta. Inklusivitas ini mencerminkan semangat gotong royong dan persatuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan.
Dalam kesempatan yang sama, narasumber utama diklat, Marsekal Pertama TNI (Purn.) Prof. Dr. Ir. Rudy Agus Gemilang Gultom, M.Sc., turut membekali peserta mengenai pentingnya fungsi drone dalam peta ketahanan nasional. Beliau menekankan bahwa teknologi nirawak kini menjadi instrumen vital—baik untuk fungsi sosial seperti pencarian dan pertolongan (SAR), pemetaan wilayah, hingga pertahanan negara yang bersifat defensif aktif sesuai prinsip bebas aktif.
Menyikapi hal tersebut, Julham Satria mendorong agar kolaborasi antara lembaga edukasi, komunitas, dan pemerintah daerah terus diperkuat secara berkesinambungan. Ia berharap program edukasi teknologi aviasi nirawak ini dapat direplikasi di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
“Kami berharap pelatihan berjenjang seperti ini terus berputar secara estafet dari tingkat dasar hingga ahli di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota. Dengan demikian, pemerataan kompetensi dan kesadaran akan ketahanan nasional dapat terwujud secara menyeluruh dari Sabang sampai Pulau Rote,” pungkas Julham.
/Red-UR





















































Discussion about this post